ACEH TIMUR | Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar kembali menghantui masyarakat Aceh khususnya Timur. Dalam sepekan terakhir, antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Peureulak, Idi, Julok hingga Pante Bidari tampak mengular.
Truk pengangkut hasil bumi, nelayan, hingga petani mengeluh karena pasokan solar subsidi semakin sulit didapat.
“Kalau biasanya satu tangki 16 ton, sekarang paling dikirim 8 ton, itu pun datangnya telat,” kata salah satu pengelola SPBU di Idi kepada BisaApa.co.id pada Kamis, 6 November 2025.
Kondisi ini sejalan dengan temuan nasional, berdasarkan data Kementerian ESDM dan Pertamina pada kuartal III 2025, kelangkaan solar terjadi karena kuota subsidi yang menipis, lonjakan permintaan di daerah, serta kendala distribusi akibat cuaca dan transportasi.
Komisi VII DPR bahkan menilai, “anomali kebijakan ESDM” menjadi salah satu biang kerok. Izin impor BBM yang kini hanya berlaku enam bulan dengan evaluasi tiap tiga bulan membuat suplai tidak stabil.
Situasi ini berimbas ke daerah-daerah termasuk Aceh Timur, yang sangat bergantung pada distribusi dari Terminal BBM Lhokseumawe dan Medan.
Warga berharap pemerintah lebih tegas menertibkan pengguna solar subsidi dan memperbaiki sistem distribusi di daerah. Namun di tengah aturan yang berlapis dan kuota yang terus menyempit, suara masyarakat kecil sering kalah oleh birokrasi dan jalur distribusi yang rumit.
“Kami selaku pengguna truk angkutan bumi sangat terasa hasil pendapatan kami menurun total,” ucap Maulidin, salah satu pengguna truk.
| Laporan: Nanda Rizki

























