Aceh Besar | Pesantren Babul Maghfirah di Aceh Besar, Aceh, menjadi saksi bisu tragedi kebakaran yang terjadi pekan lalu. Api yang membakar asrama putra pesantren itu tidak hanya meninggalkan abu dan puing, tapi juga meninggalkan luka batin yang mendalam bagi para santri.
Kejadian itu terjadi pada Jumat (31/10) dinihari, ketika seorang santri menemukan api menyala di lantai dua gedung asrama putra yang merupakan bangunan kosong. Namun, di balik abu dan puing yang tersisa, polisi menemukan fakta mengejutkan.
Pelaku kebakaran ternyata seorang santri yang masih di bawah umur, yang mengaku telah mengalami tindakan bullying yang dilakukan oleh beberapa temannya.
“Pelaku mengaku telah mengalami tindakan bullying yang dilakukan oleh beberapa temannya, tindakan bullying yang dialami anak pelaku di antaranya anak pelaku sering dikatakan idiot ataupun tolol,” kata Kapolresta Banda Aceh Kombes Joko Heri Purwono kepada wartawan pada Kamis 6 November 2025.
Kebakaran pesantren Babul Maghfirah bukan sekadar insiden fisik, ia adalah simbol peringatan tentang pentingnya kemanusiaan dalam pendidikan agama.
Ketika luka batin tidak ditangani, dan budaya diam lebih kuat dari empati, tragedi serupa bisa terulang di tempat lain. Api yang membakar asrama itu telah padam, namun bara persoalan masih menyala di hati santri.
“Hasil penyidikan pelakunya diketahui seorang santri yang masih di bawah umur,” tutup Kapolresta Banda Aceh.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya menjaga kemanusiaan dan empati dalam pendidikan agama. Kita harus memastikan bahwa setiap anak memiliki lingkungan yang aman dan nyaman untuk belajar, tanpa takut akan tindakan bullying atau kekerasan.
| Laporan: Nanda Rizki

























