Di tengah bencana banjir bandang yang melanda Aceh, sosok Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, menjadi contoh nyata kepemimpinan yang berani, peduli dan berempati.
Sejak banjir bandang melanda Aceh Timur pada 27 November 2025, Ia tak pernah ngantor di gedung, padahal kantor gedung tak terkena musibah banjir. Ia lebih sigap memilih turun ke lapangan, berdialog langsung dengan warga, dan memastikan kebutuhan mereka terpenuhi.

Dengan langkah yang tak kenal lelah, ia terus menembus lumpur dan melawan area ekstrem, hanya untuk memastikan warganya yang terisolir aman dan sehat. Ia tak ingin hanya duduk di kantor, menerima laporan, dan memberikan instruksi. Politisi muda Partai Aceh ini ingin melihat langsung, merasakan langsung, dan membantu langsung warganya.
Dari pertama banjir, Bupati rakyat ini sudah sibuk berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat, serta sibuk melihat kondisi warganya. Ia memastikan warganya agar baik-baik saja dan paham kondisi yang dialami warganya.

Ia tak ingin menerima informasi semata di dalam gedung kantornya, ia turun berdialog langsung dengan warga agar paham kondisi warganya dan tidak salah dalam mengambil kebijakan di kemudian hari.
Hingga pada Rabu, 24 Desember 2025 atau 29 hari pasca bencana, ia kembali mengunjungi kamp-kamp pengungsi di Kecamatan Pante Bidari tepatnya di desa Alue Ia Mirah, Seuneubok Saboh, Seuneubok Tuha dan Buket rata. Ia seperti biasa, datang bersama tim menyalurkan bantuan, memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada warga.

Dengan senyum dan empati, ia mendengarkan keluh kesah warga, dan memberikan harapan bahwa Aceh akan segera pulih dan bangkit. Ia juga meminta para Keuchik agar menyegerakan pengiriman data yang valid terhadap rumah rusak akibat banjir.
Bupati Rakyat, Iskandar Usman Al-Farlaky, telah membuktikan bahwa kepemimpinan yang peduli dan berempati dapat membuat perbedaan besar dalam kehidupan masyarakat. Kehadirannya, adalah harapan bagi warganya.
Tulisan ini ditulis oleh wartawan BisaApa.co.id





















