Pidie | Sekjen TOMPi, Muhammad Nur, meminta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) membangun pos Conservation Response Unit (CRU) di Gampong Cot Kreh, Kabupaten Pidie, untuk mengatasi konflik antara gajah liar dengan manusia.
Konflik ini telah berlangsung selama sepuluh tahun dan meresahkan masyarakat di beberapa kawasan seperti Keumala, Riweuk Sakti, dan Lala. Sepekan ini, sekelompok kawanan gajah liar kembali memasuki kebun-kebun warga di kawasan Keumala, merusak tanaman langsat dan duku milik petani.
“Petani sangat kecewa dan putus asa karena usaha belasan tahun yang lalu menjadi sia-sia, dengan modal dan biaya yang dikeluarkan sangat besar,” kata Muhammad Nur, Selasa, 20 Januari 2026.
Kawanan gajah liar yang diperkirakan berjumlah 40 individu tersebut merusak kebun duku milik M Gade di Gampong Jijiem dan kebun langsat milik Lukman Abdullah di Gampong Cot Kreh, Kecamatan Keumala.
Muhammad Nur meminta BKSDA untuk lebih bertanggung jawab dan serius dalam menangani persoalan konflik satwa dan manusia di Keumala, Pidie. Dia menilai BKSDA selama ini seperti menutup mata dan membiarkan konflik terus terjadi sehingga warga tidak berdaya.
“Padahal wewenang dalam menangani konflik antara satwa liar dengan manusia sekarang berada di provinsi dan tidak lagi ada di daerah,” kata Muhammad Nur.
Agar kasus serupa tidak terulangi lagi, Muhammad Nur berharap pihak BKSDA dapat segera membangun pos CRU Gajah di Gampong Cot Kreh, Keumala, Pidie, untuk menghalau kawanan gajah liar yang turun ke kebun-kebun warga.

























