JAKARTA | Serangan Israel terhadap Gaza terus berlanjut, meskipun Israel telah bergabung dengan Dewan Perdamaian (Board of Peace) yang dibentuk Amerika Serikat.
Israel melakukan pemboman di kawasan pengungsian Gaza, menewaskan sedikitnya 31 warga Palestina, termasuk enam anak-anak pada Sabtu, 31 Januari 2026.
“Serangan ini adalah kejahatan perang. Kami tidak bisa lagi menahan diri. Kami membutuhkan bantuan internasional untuk menghentikan kekerasan ini”, kata Dr. Ghassan Abu-Sitta, direktur Rumah Sakit Al-Awda, Gaza.
Serangan Israel ini terjadi sehari sebelum penyeberangan perbatasan Rafah dibuka kembali. Mesir dan Qatar, mediator gencatan senjata, mengutuk serangan tersebut.
“Gencatan senjata berarti senjata-senjata berhenti berbunyi dan memberi jalan bagi upaya untuk mengakhiri perang,” kata Philippe Lazzarini, Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA).
Israel mengklaim serangan sebagai respons atas insiden pejuang Palestina, namun klaim ini dibantah Hamas.
“Apa yang terjadi hari ini adalah kejahatan sepenuhnya yang dilakukan oleh musuh kriminal yang tidak mematuhi perjanjian atau menghormati komitmen apa pun,” kata Suhail al-Hindi, anggota biro politik Hamas.
Akibat serangan ini, juga menyebabkan kondisi kesehatan di Gaza memburuk, dengan pasokan medis menipis.
“Kami tidak bisa lagi memberikan perawatan yang layak kepada pasien kami. Kami membutuhkan bantuan internasional untuk menghentikan kekerasan ini dan membawa pasokan medis ke Gaza”, kata Dr. Abu-Sitta.

























