JAKARTA | Pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, memperingatkan sistem moneter global berada di ambang kehancuran akibat lonjakan utang Amerika Serikat (AS) yang menembus USD 38 triliun.
Kondisi ini berpotensi memicu runtuhnya tatanan keuangan global yang telah menopang perekonomian dunia selama puluhan tahun.
“Pemerintah AS dihadapkan pada pilihan sulit: mencetak uang atau membiarkan krisis utang terjadi,” kata Dalio dalam berbagai forum internasional, termasuk World Economic Forum (WEF) di Davos.
Dalio menyebut situasi ini sebagai fase akhir dari siklus panjang sistem moneter global, yang akan berdampak lintas generasi.
“Cucu dan cicit saya yang bahkan belum lahir, akan menanggung pembayaran utang ini dalam dolar yang nilainya telah terdepresiasi,” ujarnya.
Peringatan Dalio relevan dengan meningkatnya upaya dedolarisasi oleh negara-negara BRICS. Rusia dan China telah menyelesaikan sekitar 90% perdagangan bilateral mereka menggunakan rubel dan yuan tanpa melibatkan dolar AS.
Di sisi lain, bank-bank sentral dunia membeli lebih dari 1.100 ton emas sepanjang 2025 sebagai upaya lindung nilai terhadap risiko mata uang fiat. Dalio merekomendasikan investor menempatkan sekitar 10-15% portofolio mereka pada emas sebagai perlindungan.
Harga emas diproyeksikan mendekati USD6.000 per ons pada pertengahan 2026. Meski demikian, dolar AS masih mendominasi sistem keuangan global, namun porsinya dalam cadangan devisa bank sentral terus menurun.
Konvergensi antara lonjakan utang AS, peringatan Dalio, dan percepatan dedolarisasi BRICS menandai pergeseran bertahap namun fundamental dalam arsitektur keuangan global.
Perubahan ini berpotensi membentuk ulang sistem moneter dunia dalam beberapa tahun ke depan.

























