ACEH TIMUR | Aktivitas pembukaan lahan oleh PT Prama Agro Sejahtera di wilayah sengketa agraria, Gampong Jambo Reuhat, Aceh Timur, memicu kemarahan warga dan organisasi masyarakat sipil.
Alat berat kembali beroperasi di kawasan konflik agraria tersebut, meskipun masa tanggap darurat bencana belum berakhir.
Sanusi M. Syarif dari Yayasan Rumpun Bambu Indonesia (YRBI) menyatakan bahwa kehadiran kembali perusahaan di atas lahan sengketa memperparah penderitaan masyarakat yang sedang berada dalam situasi darurat.
“Ketika warga masih berurusan dengan banjir, kerusakan, dan kehilangan, alat berat tiba-tiba masuk lagi. Ini bukan pekerjaan biasa,” katanya.
Konflik agraria di Kampung Jambo Reuhat masih dalam proses penanganan melalui Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Timur. Namun, pembukaan lahan yang dilakukan saat proses penyelesaian konflik masih berlangsung merupakan tindakan sepihak.
Warga dan aktivis menuntut pemerintah daerah dan DPRK Aceh Timur menjalankan hasil kerja pansus secara transparan, melakukan audit menyeluruh terhadap izin dan konsesi perusahaan, serta memastikan perlindungan penuh terhadap hak-hak masyarakat terdampak.
“Bencana memperlihatkan ketimpangan relasi kuasa secara telanjang. Ketika warga mengungsi dan kehilangan ladang, perusahaan justru memperluas tapak,” tutup Sanusi.
Laporan: Nanda Rizki

























