Oleh: Mirza Arianda, Pemuda Penikmat Kopi Hitam.
Bencana yang melanda Aceh bukanlah sekadar musibah alam, tapi juga akibat dari kelalaian negara. Hari ini, kita menyaksikan bukti nyata dari bencana yang telah merenggut nyawa ratusan orang, membuat puluhan orang masih hilang, dan meninggalkan anak-anak yatim serta keluarga yang kehilangan harapan.
Bencana ini bukanlah kejadian yang tiba-tiba, tapi merupakan hasil dari kebijakan negara yang tidak peduli dengan lingkungan dan keselamatan rakyat Aceh. Penggundulan hutan, eksploitasi sumber daya alam, dan pembangunan infrastruktur yang tidak berkelanjutan, semua itu telah menciptakan bencana yang tak terelakkan.
Membunuh secara perlahan, itulah yang dilakukan negara terhadap rakyat Aceh. Bencana demi bencana, penderitaan demi penderitaan, dan kematian demi kematian. Semua itu terjadi karena ketidakpedulian negara, karena kebijakan yang tidak pro-rakyat, dan karena kerakusan yang tidak pernah puas.
Namun, kesedihan tidak berhenti di situ. Listrik yang padam di mana-mana membuat kehidupan masyarakat Aceh semakin gelap dan sulit. Berhari-hari tanpa listrik, membuat aktivitas sehari-hari menjadi terhambat. Padamnya listrik juga berdampak besar pada perekonomian Aceh. Banyak toko-toko yang terpaksa tutup karena tidak bisa beroperasi tanpa listrik.
Di tengah-tengah kegelapan ini, masyarakat Aceh hanya bisa berharap bahwa suatu hari nanti, kehidupan mereka akan membaik. Mereka berharap bahwa pemerintah akan peduli dengan kesulitan mereka dan memberikan bantuan yang dibutuhkan. Mereka berharap bahwa listrik akan segera kembali dan kehidupan bisa kembali normal.
Tapi, sampai saat ini, harapan itu masih jauh dari kenyataan. Apakah kita akan terus membiarkan negara membunuh rakyat Aceh secara perlahan? Apakah kita akan terus membiarkan kegelapan ini terus berlanjut? Saatnya kita bersuara dan menuntut keadilan bagi rakyat Aceh!

























