ACEH TIMUR | Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, mengaku belum menerima tenda apapun baik dari Kementerian Sosial (Kemensos) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk kebutuhan warganya sebagai hunian sementara.
“Kami belum menerima tenda apapun baik dari Kemensos dan BNPB. Sebaiknya kalau ada stok BNPB itu mengirim kami tenda, bukan hanya ke Kuala Simpang Aceh Tamiang saja”, kata Al-Farlaky, saat dijumpai awak media di Pendopo pada Minggu malam, 14 Desember 2025.
Tenda, sebagai hunia sementara juga sangat difokuskan bupati Al-Farlaky, lantaran kondisi warganya yang mengungsi sangat parah dan membutuhkannya.
Bupati menjelaskan bahwa pihaknya hanya mampu menyalurkan tenda terpal kepada warga yang dijual lokal. “Mereka hanya menopang membuat dengan kayu sederhana. Dan itu tidak efektif,” katanya.

Politis muda Partai Aceh itu juga mengatakan bahwa total kerugian fasilitas publik di Aceh Timur mencapai 5,1 T dan itu bukan angka akhir.
“Jika terlambat kita mengirimkan tenda, bagaimana jika ada bayi-bayi yang sekarang itu tinggal di tenda tapi kedinginan, walaupun kami juga ada memberikan keperluan bayi di kamp-kamp pengungsian,” katanya.
Bupati meminta agar BNPB segera memproses permintaan tenda tersebut. “Penjelasan BNPB mereka mengatakan sedang memproses itu, kemarin saya sampaikan lagi. Jangan sampai permintaan kami tidak disahuti oleh teman-teman BNPB,” katanya.
Untuk diketahui, banjir bandang yang melanda Aceh Timur menyebabkan banyak kerusakan. Sekitar 48.120 jiwa atau 12.871 keluarga terdampak, dan 44.941 jiwa di antaranya harus mengungsi karena rumahnya rusak atau terendam.
Rumah warga yang rusak mencapai 18.374 unit, dengan rincian:
– 6.717 unit rusak berat
– 4.671 unit rusak sedang
– 7.040 unit rusak ringan
Saat ini, ada 689 titik pengungsian di Aceh Timur yang menampung warga terdampak banjir.

























