Hujan di bulan November. Romantis, tapi nggak selalu manis. Di Indonesia, ini sering jadi warning: intensitasnya tinggi, risiko banjir, longsor, dan drama alam lainnya naik! Hujan bukan cuma ancaman, hujan juga simbol rahmat, penghidup bumi yang kering. Tapi, hati-hati!
Makna di Baliknya:
November transisi kemarau ke hujan. Alam seakan bilang, “Waktu berbagi, waktu waspada.” Hujan mengingatkan kita pada kesuburan, tapi juga kerapihan: jaga drainase, siapkan diri. Jangan sampai tergelincir dalam nikmat, kaget kena genangan!
Dalam adat, hujan jadi metafora kesabaran: deras tapi tak pernah lelah memberi. Di Aceh, ada zikmat syukur: “Alhamdulillah, air datang!” Manfaatkan untuk tanam harapan, bukan bikin galau.
Empat Pesan Bijak:
1. Siap-siap, Jangan Santai! Cek saluran air, jaga lingkungan. Bencana bukan sekadar kata, it’s real.
2. Hargai Momen. Hujan = hidup. Minum secangkir kopi, dengar zikir, syukur sebelum tergawa.
3. Jaga Sesama. Bantu tetangga, kurangi ego. Hujan bukan musuh, kita yang tentukan dampak.
4. Raihlah Hikmah. Seperti hujan, kita tak selalu terlihat, tapi berguna. Sebar kebaikan, meski setetes.
Intinya: hujan November, waspada tapi syukur. Alam memberi, kita merespons. Jangan hanya berlindung, jadilah bagian solusi.
“Hujan bukan musibah, kalau kita siap.” Stay safe, tetap baik-baik saja!
Penulis adalah Wartawan !

























