JAKARTA | Iran kembali menutup Selat Hormuz setelah Israel melakukan serangan udara ke Lebanon pada Rabu (8/4) pagi waktu setempat, memicu ketegangan baru di kawasan Timur Tengah.
Dilansir dari Reuters, keputusan tersebut diambil oleh Teheran sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dan Samudra Hindia, vital untuk perdagangan minyak dunia. Penutupan ini berpotensi menaikkan harga minyak global akibat terbatasnya pasokan.
Iran menilai serangan Israel ke Lebanon sebagai provokasi dan pelanggaran serius, sehingga memutuskan untuk melakukan operasi pencegahan terhadap posisi militer Israel di wilayah pendudukan.
Gencatan senjata selama dua minggu yang disepakati sebelumnya kini terancam gagal. Iran dan AS memiliki perbedaan pendapat tentang cakupan gencatan senjata, terutama mengenai wilayah Lebanon.
Iran menyatakan bahwa gencatan senjata mencakup penghentian semua serangan terhadap Lebanon, namun Israel menolak klaim ini.
Penutupan Selat Hormuz membawa dampak besar bagi perdagangan global, khususnya pasokan minyak yang melewati jalur ini.
Sebelumnya, setelah kesepakatan gencatan senjata, dua kapal tanker telah diizinkan melewati Selat Hormuz.
Namun, keputusan Iran menutup kembali selat ini akan menimbulkan kekhawatiran baru terkait stabilitas keamanan kawasan dan pasokan energi dunia

























