ACEH UTARA | Harga komoditi pinang di Aceh Utara merangkak naik pascabanjir besar yang melanda daerah tersebut. Kondisi ini turut membuat para petani tersenyum semringah lantaran pinang sedang memasuki musim panen raya.
“Harga pinang belah dan kupas kering saat ini mencapai Rp 15 ribu per kilogram dan pinang basah dijual Rp 10 ribu per kilogram,” kata Ibnu Sabil, seorang petani asal Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara pada Minggu, 1 Februari 2026.
Ibnu menyebutkan, harga tersebut naik di kisaran Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per kilogram dari harga jual sebelumnya.
Ia fokus mengembangkan budidaya pinang dan lemon pascapensiun dari pemerintahan, dan menurutnya komoditi tersebut dapat menjadi tulang punggung ekonomi tanpa membutuhkan modal besar atau lahan yang ekstrem.
“Budidaya pinang tidak harus memiliki lahan luas di pegunungan. Masyarakat bisa memanfaatkan lahan tidur atau pekarangan rumah,” ujar Ibnu.
Pohon pinang juga ramah lingkungan, mudah dirawat, dan hasilnya cukup menopang ekonomi keluarga.
Kendatipun harga sedang berada di tren positif, populasi pinang di Aceh Utara masih terbatas karena sebagian besar petani masih fokus pada kelapa sawit.
“Namun potensi pinang kini mulai dilirik sebagai alternatif yang menguntungkan,” pungkasnya.

























