ACEH UTARA | Penyintas banjir di Dusun Teungoh, Gampong Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemerintah.
Mereka merasa telah ditipu dengan janji-janji yang tidak ditepati. “Kami merasa ditipu,” ucap Musri Sulaiman, seorang penyintas banjir, Rabu (8/4/2026).
Musri mengatakan, penyintas banjir di Dusun Teungoh merasa sangat lelah dengan kondisi yang dirasakan saat ini.
Musri mengaku, mereka dipaksa pindah ke hunian sementara (huntara) yang belum siap pada hari Meugang Idulfitri kemarin, dengan penawaran uang Rp1 juta per kepala keluarga dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“Kami hari Meugang Idulfitri kemarin dipaksa pindah ke huntara yang belum siap, dengan penawaran uang Rp1 juta per kepala keluarga,” kata Musri.
Mereka terpaksa mengikuti kemauan pemerintah karena tidak mampu lagi bertahan di tenda pengungsian yang panas.
Musri mengatakan, mereka tidak dapat mencicipi daging pada hari Meugang Idulfitri dan tidak dapat merayakan lebaran seperti orang lain karena harus mempersiapkan dan beres-beres barak huntara yang tidak selesai dan belum layak dihuni.
Penyintas banjir saat ini tidak percaya lagi terhadap janji pemerintah. Mereka merasa semakin hari kondisinya tidak membaik, malah kian parah.
“Kekecewaan lain yang kami rasakan. Pemerintah menjanjikan untuk memberikan fasilitas dasar di huntara hingga bantuan kebutuhan pokok. Namun, sampai sekarang pengungsi belum merasakan apapun buah dari kata-kata manis itu,” kata Musri.
Musri mengakui, mereka hanya mendapat dua kasur lipat, tiga tikar karet, dan satu kipas angin ketika masuk huntara beberapa waktu lalu.
“Kata mereka, barang-barang lain akan diberikan secara nyusul karena masih dalam perjalanan, tapi sampai sekarang belum datang apa-apa lagi,” pungkas Musri.

























