BIREUEN | Amin, pengungsi asal Desa Kapa, hanya menunjuk deretan tenda di halaman Kantor Bupati Bireuen, tempat ia dan puluhan korban banjir bertahan selama 12 hari terakhir.
“Baru sekali bupati menemui kami,” kata Amin, Minggu, 22 Maret 2025.
Menurut Amin, Bupati Bireuen, Mukhlis, datang pada malam pertama para pengungsi tiba. Pertemuan itu berlangsung singkat, tak sampai satu jam.
Sejak saat itu, ia mengaku tak pernah lagi melihat kehadiran orang nomor satu di daerah tersebut.
“Setelah itu hanya orang-orangnya yang datang, melobi agar kami pulang. Dia tidak pernah datang lagi, padahal kami di kantor beliau,” ujar Amin.
Para pengungsi menuntut Bupati Bireuen segera menandatangani rekomendasi pembangunan hunian sementara dan hunian tetap dalam waktu maksimal 10 hari.
Mereka juga meminta penyaluran bantuan dana bagi korban yang belum menerima, serta pendataan ulang yang adil dan inklusif, khususnya bagi kelompok rentan.
“Tidak boleh ada pengusiran tanpa solusi,” tegas Soeratin, salah seorang pengungsi. Mereka menetapkan tenggat waktu 30 hari untuk hunian bisa ditempati, jika tidak, akan membawa persoalan ini ke ranah hukum.

























