Jakarta | Lumbung Informasi Mahasiswa Matangkuli (LIMA) mengecam keras pernyataan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang menyebut “saya tidak punya tongkat Nabi Musa”.
Pernyataan ini dinilai bukan hanya keliru secara narasi, tetapi juga melukai nalar publik di tengah penderitaan rakyat yang masih berkepanjangan.
“Pernyataan ini terkesan cuci tangan dan melempar tanggung jawab,” kata Ketua LIMA, Faddhal, dalam siaran persnya yang diterima BisaApa.co.id pada Kamis, 18 Desember 2025.
LIMA menegaskan bahwa rakyat tidak pernah menuntut keajaiban, tetapi hanya menuntut keadilan, keberpihakan, dan kerja nyata dari pemerintah.
“Ketika negara abai, pernyataan semacam ini hanya mempertebal jarak antara kekuasaan dan penderitaan rakyat,” tambahnya.
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto ini dinilai mencerminkan krisis empati dan krisis kepemimpinan. LIMA menuntut Presiden berhenti menyampaikan pernyataan yang merendahkan akal sehat publik dan bertanggung jawab penuh atas dampak kebijakan yang gagal.
“Negara harus hadir secara nyata, bukan retorika kosong. Jika penguasa mulai alergi kritik, maka mahasiswa wajib berdiri sebagai pengingat. Diam adalah pengkhianatan terhadap rakyat,” pungkas Faddhal.

























