Oleh: Nanda Rizki Jemp, Alumni Sekolah HAM Kontras Aceh.
Ucapan Presiden Prabowo Subianto bahwa dirinya “tidak memiliki tongkat Nabi Musa” saat menemui warga terdampak banjir mungkin terdengar jujur.
Namun, di tengah krisis kejujuran semacam itu justru terasa sebagai pengakuan atas ketidakberdayaan negara. Pernyataan tersebut seolah menormalisasi kegagalan, alih-alih menjelaskan tanggung jawab.
Bagi warga yang kehilangan rumah, listrik, dan rasa aman, metafora religius itu bukan penghiburan, melainkan sinyal bahwa negara hadir tanpa solusi.
Alih-alih membangun empati, pernyataan tersebut justru memperlebar jarak antara kekuasaan dan korban bencana. Dalam kondisi darurat, rakyat tidak membutuhkan narasi tentang keterbatasan alat kuasa negara.
Rakyat membutuhkan tindakan yang cepat, terkoordinasi, dan berkelanjutan. Empati tanpa kebijakan hanyalah retorika, dan retorika dalam situasi bencana mudah berubah menjadi bentuk pengabaian yang halus.
Lebih jauh, metafora “tongkat Nabi Musa” berpotensi mengalihkan perhatian dari persoalan struktural yang telah lama diabaikan.
Banjir dan longsor bukanlah kejadian luar biasa, melainkan konsekuensi dari tata kelola lingkungan yang buruk, mitigasi yang setengah hati, serta perencanaan wilayah yang abai terhadap risiko.
Ketika bencana terus berulang, alasan bahwa negara tidak memiliki alat ajaib terdengar tidak relevan. Masalahnya bukan ketiadaan mukjizat, melainkan kegagalan sistem.
Sebagian pihak mungkin menyebut ucapan Prabowo sebagai bentuk kejujuran politik. Namun kejujuran yang tidak disertai keberanian untuk mengakui kesalahan dan membenahi kebijakan hanya akan menjadi pembelaan diri.
Negara tidak diukur dari kesediaannya merendah, melainkan dari kemampuannya bekerja. Kerja negara seharusnya tampak sebelum, saat, dan setelah bencana, bukan sekadar di hadapan kamera.
Polemik “tongkat Nabi Musa” pada akhirnya mengungkap kegelisahan publik terhadap arah kepemimpinan baru. Rakyat tidak menuntut keajaiban, melainkan tanggung jawab.
Bukan mukjizat, melainkan negara yang siap, sigap, dan mampu belajar dari kegagalannya sendiri. Jika tidak, setiap bencana akan terus diperlakukan sebagai takdir, dan setiap kegagalan akan terus dibungkus dengan metafora.
Tulisan ini sepenuhnya hak dan Tanggung jawab Penulis!

























