JAKARTA | Anggota DPR RI asal Aceh, TA Khalid, menilai dampak bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh jauh lebih berat dibandingkan bencana tsunami 2004.
“Bencana kali ini menghantam wilayah dari hulu hingga hilir, menyebabkan kerusakan parah pada sektor pertanian dan permukiman,” kata TA Khalid dalam rapat yang membahas upaya pemulihan pascabencana di daerah terdampak, di Gedung DPR RI, Rabu (14/1).
TA Khalid mengungkapkan, berdasarkan data yang diperolehnya bersama Kementerian Kehutanan, longsor terjadi di kawasan seluas sekitar 8.800 hektare di atas wilayah Kuala Simpang, Aceh Taming, dan 1.300 hektare di kawasan atas Langkahan, Aceh Utara.
“Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terdampak. Sawah-sawah tidak hanya rusak, tetapi tertimbun lumpur dengan ketebalan mencapai dua hingga tiga meter di sejumlah wilayah,” ujarnya.
TA Khalid mengusulkan agar dilakukan kajian teknis terkait kemungkinan pemanfaatan lumpur sebagai media tanam dan meminta negara menambah anggaran untuk mempercepat rehabilitasi sawah dan memulihkan kehidupan masyarakat Aceh.
“Anggaran Rp 1,1 triliun tidak akan cukup untuk melakukan rehabilitasi secara menyeluruh. Negara harus hadir dan membantu Aceh,” pungkasnya.

























