Kekhawatiran masyarakat Aceh akan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) mulai merembet ke jalan-jalan. Stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) di Banda Aceh dan sekitarnya dipenuhi konsumen yang melakukan pembelian besar-besaran.
Mereka khawatir tidak mendapatkan BBM setelah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebutkan bahwa persediaan BBM Indonesia hanya tersedia untuk 20 hari ke depan.
Pernyataan Bahlil itu seperti bensin yang disiramkan ke api. Masyarakat langsung panik, dan SPBU menjadi tempat pembunuhan logika. Orang-orang berebut membeli BBM, seolah-olah esok hari akan menjadi hari kiamat. Padahal, PT Pertamina sudah memastikan bahwa ketersediaan BBM di Aceh aman selama Ramadan hingga menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah.
Pertanyaannya, apakah pernyataan Bahlil itu kebodohan atau sengaja? Apakah dia tidak tahu bahwa pernyataan itu akan memicu kekhawatiran masyarakat? Atau apakah dia sengaja memantik kekacauan untuk mencapai tujuan tertentu?
Kita tidak tahu apa motivasi Bahlil, tapi yang jelas, pernyataannya itu tidak bertanggung jawab. Pemerintah daerah di Aceh harus bertindak cepat untuk menenangkan masyarakat dan memastikan ketersediaan BBM. Mereka harus melakukan langkah-langkah yang mendidik dan rasional, bukan ikut-ikutan dalam kekacauan.
Kita harus belajar dari pengalaman krisis saat Aceh dilanda bencana ekologi banjir besar, November tahun lalu. Aksi panic buying dan upaya penimbunan bahan bakar hanya membuat situasi semakin runyam. Jangan biarkan hal itu terjadi lagi. Kita harus berhemat, berhemat, dan berhemat.

























