JAKARTA | Krisis penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah memicu guncangan di pasar energi global. Selat Hormuz adalah jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, dan merupakan salah satu jalur utama perdagangan energi dunia.
Iran menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan AS-Israel terhadap negaranya. Penutupan ini telah memicu kenaikan harga minyak dunia, dengan Brent crude meningkat 2,6% ke level US$80 per barel.
Dampak krisis ini, terutama pada kenaikan biaya energi, telah dirasakan oleh negara-negara Asia Selatan, seperti Pakistan dan Bangladesh. Harga gas alam cair (LNG) juga naik tajam, dengan Qatar menghentikan produksi sementara.
“Ini adalah situasi yang sangat serius,” kata seorang analis energi di Singapura. “Penutupan Selat Hormuz akan memiliki dampak besar pada pasokan energi global.”
Wakil Ketua MPR, Eddy Soeparno, mendesak pemerintah untuk mengantisipasi dampak krisis ini, termasuk mempercepat transformasi energi dan memperkuat cadangan energi nasional.
“Pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi,” kata Eddy Soeparno.
Krisis ini juga berdampak pada industri pelayaran, dengan beberapa perusahaan pelayaran menghentikan operasi di wilayah tersebut.

























