• Terbaru
Ketahanan atau Pengamanan? Dinamika Proyek Strategis dan Spirit MOU Helsinki di Aceh

Ketahanan atau Pengamanan? Dinamika Proyek Strategis dan Spirit MOU Helsinki di Aceh

10 Mei 2025
BMKG Prediksi Cuaca Panas di Aceh, Masyarakat Diminta Waspada

BMKG Prediksi Cuaca Panas di Aceh, Masyarakat Diminta Waspada

2 Februari 2026
Sekda Aceh: Tugas Atau Catur?

Sekda Aceh: Tugas Atau Catur?

2 Februari 2026
Hancurkan Sitem Moneter Global: Utang AS USD 38 Triliun Picu Krisis Keuangan

Hancurkan Sitem Moneter Global: Utang AS USD 38 Triliun Picu Krisis Keuangan

2 Februari 2026
Kaula Muda Aceh Desak Rekonsiliasi, Aceh Butuh Kestabilan Politik

Kaula Muda Aceh Desak Rekonsiliasi, Aceh Butuh Kestabilan Politik

1 Februari 2026
Dua Unit Rumah Warga di Semadam Aceh Tenggara Hangus Terbakar

Dua Unit Rumah Warga di Semadam Aceh Tenggara Hangus Terbakar

1 Februari 2026
HRD Pimpin PKB Aceh, Fokus pada Soliditas dan Kerja Kolektif

HRD Pimpin PKB Aceh, Fokus pada Soliditas dan Kerja Kolektif

1 Februari 2026
Lagi! Israel Kembali Serang Gaza, 31 Warga Palestina Tewas

Lagi! Israel Kembali Serang Gaza, 31 Warga Palestina Tewas

1 Februari 2026
Penangkapan Spektakuler, Dua Pencuri Tas di Banda Aceh Dibekuk Polisi

Penangkapan Spektakuler, Dua Pencuri Tas di Banda Aceh Dibekuk Polisi

1 Februari 2026
Kenaikan Harga Pinang Bawa Senyum Petani di Aceh Utara Pasca Banjir Besar

Kenaikan Harga Pinang Bawa Senyum Petani di Aceh Utara Pasca Banjir Besar

1 Februari 2026
Pelayanan Kesehatan di Aceh Utara Mulai Pulih, 19 Puskesmas Kembali Beroperasi

Pelayanan Kesehatan di Aceh Utara Mulai Pulih, 19 Puskesmas Kembali Beroperasi

31 Januari 2026
APPMBGI Aceh Siap Dukung Program Makan Bergizi Gratis Nasional

APPMBGI Aceh Siap Dukung Program Makan Bergizi Gratis Nasional

31 Januari 2026
TAPA Aceh Dikritik, Alokasi Anggaran Rp 71,7 Miliar untuk Iklan Dinilai Tidak Tepat

TAPA Aceh Dikritik, Alokasi Anggaran Rp 71,7 Miliar untuk Iklan Dinilai Tidak Tepat

31 Januari 2026
Berita Online, BisaBaca
  • BERANDA
  • RAGAM
  • OPINI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • WISATA
  • FOTO
Tidak Ada Hasi
Lihat Semua Hasil
  • BERANDA
  • RAGAM
  • OPINI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • WISATA
  • FOTO
Tidak Ada Hasi
Lihat Semua Hasil
Berita Online, BisaBaca

Ketahanan atau Pengamanan? Dinamika Proyek Strategis dan Spirit MOU Helsinki di Aceh

Redaksi Penulis Redaksi
Sabtu, 05/10/2025 | 00:34 WIB
Ketahanan atau Pengamanan? Dinamika Proyek Strategis dan Spirit MOU Helsinki di Aceh

Pemerhati Politik Aceh, Sofyan, S.sos. (Foto: for BisaApa.co.id).

Bagi ke WhatsAppBagi Ke Twitter

Oleh: Sofyan, S.Sos (Pemerhati Politik Aceh).

 

Paska MOU Helsinki 2005, Aceh menapaki jalan damai yang diharapkan membawa stabilitas politik, keadilan sosial, dan pembangunan yang inklusif. Namun, dalam praktiknya muncul berbagai dinamika yang menimbulkan pertanyaan atas konsistensi negara terhadap semangat kesepakatan tersebut.

Salah satu isu terkini adalah implementasi proyek strategis nasional (PSN) di wilayah barat selatan Aceh, yang dinarasikan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan nasional, terutama di bidang pangan dan infrastruktur.

Pertanyaannya, apakah proyek ini benar-benar dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, atau justru merupakan bentuk “soft militarization“, upaya negara mengendalikan wilayah-wilayah strategis secara halus lewat pendekatan sipil?

Mengutip Samuel Huntington dalam “Political Order in Changing Societies“, ia membahas hubungan antara institusi militer, stabilitas politik, dan pembangunan nasional, termasuk bagaimana negara menggunakan militer secara langsung atau tidak langsung untuk mengatur masyarakat.

4 Faktor Pengaruh Dalam Teori Penggalangan Militer

Dalam kajian strategi dan keamanan, penggalangan militer tidak selalu dilakukan secara eksplisit lewat pengerahan pasukan atau operasi militer. Sebaliknya, pendekatan lunak melalui program pembangunan kerap digunakan untuk membangun legitimasi negara dan mengendalikan wilayah yang secara politik dianggap “rawan”.

Ada empat faktor utama yang biasanya mempengaruhi pola ini, yaitu:

  • Politik: Dominasi pengambilan kebijakan dari pusat, tanpa pelibatan partisipasi lokal yang bermakna, menciptakan kesan eksklusi dan memperlemah legitimasi negara di mata masyarakat lokal. Di Aceh, praktik ini mengingatkan kembali pada sentralisme Orde Baru yang memicu konflik.
  • Ekonomi: Proyek-proyek ketahanan pangan dan infrastruktur tidak netral secara politik. Penempatan proyek di wilayah tertentu dapat menjadi instrumen kontrol teritorial dan loyalitas, sekaligus cara untuk memperkuat kehadiran negara.
  • Sosial: Ketimpangan distribusi proyek strategis menimbulkan keresahan publik, yang menandakan adanya ketegangan sosial-politik yang belum selesai meski konflik bersenjata telah usai.
  • Teknologi: Pemanfaatan teknologi logistik dan pertahanan (seperti pembangunan gudang pangan, pelabuhan, atau jalur distribusi) dapat dimaknai sebagai upaya memperkuat posisi negara secara fisik dan simbolik atas wilayah yang historisnya kritis.
Baca Juga :  Sekda Aceh: Tugas Atau Catur?

Momentum Ketahanan atau Ketidakstabilan Negara?

Narasi “ketahanan pangan nasional” terdengar positif dan progresif. Namun dalam konteks Aceh, perlu diselami lebih dalam: apakah narasi ini sekadar pembungkus bagi proyek kontrol politik terselubung? Ketika penempatan proyek dilakukan tanpa transparansi, partisipasi lokal, atau penyesuaian dengan kerangka otonomi khusus dan MOU Helsinki, maka wajar jika muncul dugaan bahwa negara sedang mencoba mengamankan wilayah secara pre-emptive melalui infrastruktur sipil.

Konsep soft militarization menjelaskan fenomena ini: yakni penggunaan program pembangunan untuk tujuan stabilitas politik dan kontrol keamanan. Di banyak negara pasca-konflik, strategi ini digunakan untuk mencegah kebangkitan gerakan separatisme dengan cara memperkuat kehadiran negara lewat “wajah sipil”.

Baca Juga :  Membangun Aceh Tangguh Bencana

Kenapa Wilayah Barat Selatan?

Penunjukan wilayah barat selatan Aceh sebagai lokasi proyek strategis nasional bukanlah keputusan teknis semata. Ada pertimbangan geostrategis yang mungkin melandasi keputusan ini:

Pertama, aksesibilitas dan kontrol logistik: Wilayah ini secara geografis lebih mudah dikelola dan tidak terlalu “terpolitisasi”.

Kedua, minim resistensi sosial: Berbeda dengan wilayah Pase atau Aceh Tengah, barat selatan relatif tenang secara politik.

Ketiga, strategi pinggiran: Menghindari pusat-pusat kekuatan simbolik perlawanan Aceh seperti Lhokseumawe atau Pidie, bisa jadi merupakan cara negara untuk menghindari resistensi budaya-politik.

Namun justru di sinilah muncul pertanyaan mendasar: mengapa tidak menempatkan proyek di wilayah yang lebih relevan secara historis dan budaya? Apakah ini bentuk ketakutan negara terhadap potensi perlawanan, atau upaya peminggiran politik terhadap wilayah yang dulu menjadi basis utama perjuangan Aceh?

Tender sudah dimenangkan, dimana peran Mou Helsinki?

Mou Helsinki adalah fondasi moral dan politik dari perdamaian Aceh. Salah satu prinsip utamanya adalah partisipasi politik, penghormatan terhadap otonomi lokal, dan penguatan kepercayaan antara negara dan rakyat Aceh. Ketika proyek strategis ditetapkan tanpa konsultasi dengan aktor-aktor lokal atau lembaga representatif Aceh, maka ini bukan sekadar masalah prosedural, melainkan pelanggaran terhadap semangat perjanjian damai.

Lebih dari itu, proses yang tidak transparan ini bisa menimbulkan distrust atau ketidakpercayaan masyarakat terhadap komitmen negara dalam menjaga perdamaian. Tender yang sudah dimenangkan bukan menjadi akhir proses, melainkan bisa menjadi awal dari resistensi baru jika rakyat merasa dimarginalkan dari proses kebijakan yang menyangkut masa depan mereka.

Baca Juga :  Sekda Aceh: Tugas Atau Catur?

Kesimpulan

Isu proyek strategis di Aceh barat selatan tidak dapat dilihat sekadar dari kacamata teknokratik atau sektoral. Ini adalah soal keadilan dalam proses pembuatan kebijakan, soal penghormatan terhadap sejarah konflik, dan soal keberlanjutan perdamaian. Ketika negara gagal menjalankan prinsip transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas – terlebih dalam konteks pasca-konflik – maka keresahan publik bukanlah bentuk pembangkangan, tetapi ekspresi kekecewaan dan ketidakpercayaan yang beralasan.

Jika negara ingin memperkuat ketahanan nasional, maka fondasinya bukan hanya infrastruktur atau teknologi, tetapi kepercayaan publik yang dibangun melalui proses yang adil, inklusif, dan menghormati komitmen damai. Tanpa itu, pembangunan sebesar apa pun akan selalu dibayang-bayangi oleh pertanyaan: siapa yang diuntungkan, dan untuk kepentingan siapa?

Adapun perusahaan pemenang tender di masing-masing lokasi adalah:PT Performa Trans Utama (Pidie), PT Kartika Bhaita ( Nagan Raya), PT Rezeki Selaras Mandiri (Aceh Tengah), dan PT Teguh Karya Sejati ( Aceh Singkil).

Rencana pembangunan empat YTP itu akan dilakukan dibawah komando Kodam Iskandar Muda, dengan lokasi tersebar di Pidie, Nagan Raya, Aceh Tengah, dan Aceh Singkil.

 

Tulisan ini sepenuhnya hak dan tanggung jawab si penulis !

MengirimMenciak

Baca Juga

Sekda Aceh: Tugas Atau Catur?
Opini

Sekda Aceh: Tugas Atau Catur?

2 Februari 2026
Membangun Aceh Tangguh Bencana
Opini

Membangun Aceh Tangguh Bencana

24 Januari 2026
Bencana Aceh, Negara, dan Paradoks Kekuasaan
Opini

Bencana Aceh, Negara, dan Paradoks Kekuasaan

28 Desember 2025
Bayang-Bayang Ratu Kegelapan di Tanah Aceh
Opini

Bayang-Bayang Ratu Kegelapan di Tanah Aceh

8 November 2025
Kisah Arjuna: Mengenang Makna Mesjid di Aceh dan Kewaspadaan di Rantau
Opini

Kisah Arjuna: Mengenang Makna Mesjid di Aceh dan Kewaspadaan di Rantau

4 November 2025
Sudan dan Aliran Darah Kemanusiaan
Opini

Sudan dan Aliran Darah Kemanusiaan

1 November 2025
  • “Sang Pengkhianat”

    “Sang Pengkhianat”

    0 Membagi
    Bagikan 0 Menciak 0
  • Pembunuh di Aceh Timur Terungkap, Pelaku Ditangkap dalam Waktu 1 Jam

    0 Membagi
    Bagikan 0 Menciak 0
  • Oknum Ketua PPS di Simpang Ulim Diduga Arahkan Anggotanya Pilih Paslon Tole untuk Bupati Aceh Timur

    0 Membagi
    Bagikan 0 Menciak 0
  • Tragedi Hari Kemerdekaan: Bocah 10 Tahun Tewas Tersengat Listrik di Aceh Timur

    0 Membagi
    Bagikan 0 Menciak 0
  • Bantah Jubir SAH, Muntasir Age Angkat Bicara

    0 Membagi
    Bagikan 0 Menciak 0

Berita Lainnya

BMKG Prediksi Cuaca Panas di Aceh, Masyarakat Diminta Waspada

BMKG Prediksi Cuaca Panas di Aceh, Masyarakat Diminta Waspada

Penulis Redaksi
2 Februari 2026

Banda Aceh | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Malikussaleh, Aceh Utara, memprakirakan enam kabupaten dan kota di Aceh berpotensi...

Sekda Aceh: Tugas Atau Catur?

Sekda Aceh: Tugas Atau Catur?

Penulis Redaksi
2 Februari 2026

BANDA ACEH |  Aceh hari ini berada di persimpangan jalan krusial. Rakyat menanti realisasi APBA 2026, tapi publik disuguhi tontonan...

Hancurkan Sitem Moneter Global: Utang AS USD 38 Triliun Picu Krisis Keuangan

Hancurkan Sitem Moneter Global: Utang AS USD 38 Triliun Picu Krisis Keuangan

Penulis Redaksi
2 Februari 2026

JAKARTA | Pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, memperingatkan sistem moneter global berada di ambang kehancuran akibat lonjakan utang Amerika Serikat...

Kaula Muda Aceh Desak Rekonsiliasi, Aceh Butuh Kestabilan Politik

Kaula Muda Aceh Desak Rekonsiliasi, Aceh Butuh Kestabilan Politik

Penulis Redaksi
1 Februari 2026

BANDA ACEH | Aktivis Kaula Muda Aceh, Aminul Mukminin S.E, yang juga dikenal sebagai Aseng, mendesak agar rekonsiliasi dilakukan untuk...

Berita Online, BisaBaca

Copyright © 2023. PT. Bisa Apa Media, All rights reserved.

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Hubungi Kami

  • Masuk
Tidak Ada Hasi
Lihat Semua Hasil
  • BERANDA
  • RAGAM
  • OPINI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • WISATA
  • FOTO

Copyright © 2023. PT. Bisa Apa Media, All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In