PIDIE JAYA | Aliansi Solidaritas Pemuda Pidie Jaya menyoroti minimnya transparansi Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya dalam menyampaikan data dan informasi terkait penanganan bencana banjir yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu.
Hingga saat ini, sejumlah data penting yang berkaitan dengan bantuan, progres penanganan, serta skema mitigasi jangka panjang belum dipublikasikan secara terbuka kepada masyarakat.
Koordinator Aliansi Solidaritas Pemuda Pidie Jaya, Dedi Saputra, menegaskan bahwa keterbukaan informasi merupakan hak publik, terutama dalam situasi bencana yang menyangkut keselamatan dan pemulihan kehidupan masyarakat.
“Kami melihat masih banyak data penting yang belum dibuka kepada publik. Padahal masyarakat berhak mengetahui secara jelas bagaimana bantuan disalurkan, berapa jumlah korban yang masih mengungsi, serta bagaimana pemerintah merencanakan pemulihan pascabencana,” ujar Dedi.
Aliansi Solidaritas Pemuda Pidie Jaya telah melakukan aksi penyampaian aspirasi kepada Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya dan bahkan telah bertemu langsung dengan Bupati Pidie Jaya untuk membahas berbagai tuntutan yang disampaikan masyarakat. Namun hingga saat ini, pertemuan tersebut dinilai belum menghasilkan tindak lanjut yang signifikan.
Dedi menegaskan bahwa kritik ini bukan untuk menyerang pemerintah daerah, melainkan sebagai bentuk kepedulian masyarakat agar penanganan bencana berjalan secara transparan dan akuntabel.
“Kami ingin menegaskan bahwa kritik ini lahir dari kepedulian terhadap masyarakat korban bencana. Yang kami perjuangkan adalah hak masyarakat untuk mengetahui secara terbuka bagaimana proses penanganan bencana dilakukan dan sejauh mana progres pemulihan berjalan,” ujarnya.
Aliansi Solidaritas Pemuda Pidie Jaya berharap Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya segera membuka seluruh data terkait penanganan bencana kepada publik agar proses pemulihan dapat diawasi bersama oleh masyarakat.
“Transparansi bukan hanya soal informasi, tetapi juga soal kepercayaan publik. Tanpa keterbukaan, akan selalu muncul pertanyaan dan keraguan di tengah masyarakat,” tutup Dedi.

























