#8 Bulan Pasca Bencana 2025, Massa Nilai Pemulihan Jalan di Tempat. Sorot Juga IUP dan Anggaran Bencana yang Timpang
BANDA ACEH | Asap ban bekas mengepul di depan Kantor Gubernur Aceh. Senin 3 Agustus 2026, Aliansi Aneuk Naggroe atau AAN turun ke jalan.
Mereka datang membawa daftar panjang kekecewaan. Dari penanganan bencana, tambang, hingga Blok Andaman.
Sekitar pukul 15.00 WIB massa tiba di gerbang utama. Langkah mereka langsung dihentikan petugas gabungan.
Tak bisa masuk, orasi pun digelar di pagar. Di tengah teriakan, massa menyalakan ban bekas. Api jadi penanda kemarahan.
Spanduk sepanjang 3 meter juga dibentangkan. Isinya tegas: “ACEH DARURAT, ACEH PERLU DIINSTAL ULANG. #SAVEACEH”
Bagi pihak AAN, bencana akhir 2025 belum selesai. Luka warga belum diobati.
“Sudah lebih delapan bulan masyarakat Aceh masih dalam trauma. Pemerintah Aceh hanya diam, begitu juga pemerintah pusat,” kata orator Syarif.
Ia meminta publik jangan lelah bersuara. “Kita belum selesai. Masih banyak tuntutan, masih banyak permasalahan dan isu-isu yang memang perlu kita selesaikan,” lanjut Syarif.
Aksi ini juga menyentil soal anggaran. Massa membandingkan pos bencana Aceh dengan Sumatera Utara.
“Sumatera Utara tidak terlalu besar terdampak bencana, mengapa bisa menganggarkan Rp 5 triliun, sedangkan Aceh hanya Rp 1 triliun,” teriak salah satu orator.
Isu IUP dan Blok Andaman juga ikut disuarakan. Menurut AAN, semua itu adalah bagian dari tata kelola Aceh yang harus dievaluasi total.
Meski massa tak terlalu banyak hari itu, Syarif melempar sinyal. Aksi lanjutan akan digelar dalam waktu dekat.
“Kita mungkin tidak ramai hari ini, tetapi saya yakin nanti pada bulan Agustus, kita akan kembali berjuang memperjuangkan hak-hak rakyat,” ujarnya.
Aksi bubar tanpa ada pejabat yang menemui. Tapi pesan di pagar gubernur sudah jelas.
Bagi AAN, Aceh butuh dibenahi dari akar. Kalau tidak, “instal ulang” adalah satu-satunya pilihan.

























