LHOKSEUMAWE | Ribuan siswa di Kota Lhokseumawe kehilangan jatah makan siang mulai Selasa, 9 Juni 2026. Enam dapur Program Makan Bergizi Gratis atau MBG menghentikan operasional sementara karena dana operasional belum cair.
Penghentian ini terjadi di tengah tahun ajaran 2025/2026 yang belum memasuki masa libur semester.
Enam SPPG Stop Beroperasi
Koordinator SPPG Kota Lhokseumawe Muhammad Aris Muladi mengatakan, dari 26 SPPG yang beroperasi di kota itu, enam di antaranya berhenti hari ini. Sehari sebelumnya seluruh dapur masih berjalan normal.
“Senin kemarin semua SPPG masih beroperasi seperti biasa. Hari ini berdasarkan pendataan kami, ada enam SPPG yang terhenti sementara,” kata Aris pads Selasa, 9 Juni 2026.
Aris belum bisa memastikan kapan layanan kembali normal. Ia berharap proses pencairan dana segera selesai agar penyaluran MBG tidak terputus lebih lama.
“Kami berharap hal ini bisa teratasi, agar SPPG kembali beroperasi dan MBG dapat disalurkan kembali kepada penerima manfaat,” ujarnya.
Dana Operasional Belum Masuk
Kepala Regional Badan Gizi Nasional Aceh Mustafa Kamal membenarkan adanya penghentian sementara. Penyebabnya adalah saldo virtual account beberapa SPPG menipis sementara dana operasional baru belum masuk.
“Benar, pemberhentian operasional sementara karena saldo VA menipis dan dana operasional belum masuk. Saat ini sedang dalam proses pencairan,” kata Mustafa, Senin, 8 Juni 2026.
Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah daerah lain di Aceh.
Kontras dengan Jadwal Pendidikan
Penghentian ini bertolak belakang dengan jadwal pendidikan yang ditetapkan pemerintah Aceh.
Berdasarkan keputusan bersama Dinas Pendidikan Aceh dan Kanwil Kemenag Aceh nomor 100.3/800/2025 dan nomor 210 tahun 2025, libur semester II baru dimulai 22 Juni hingga 13 Juli 2026.
Artinya, pembagian MBG ke sekolah seharusnya masih berlangsung penuh.
Belum ada penjelasan resmi apakah keterlambatan dana murni soal administrasi pencairan, atau ada kaitannya dengan kasus dugaan korupsi mantan pejabat BGN di pusat serta pergantian manajemen baru.
Dampaknya langsung dirasakan siswa dan orang tua di Lhokseumawe. Bagi keluarga penerima manfaat, berhentinya MBG berarti harus kembali menyiapkan bekal di tengah tekanan biaya hidup.

























