Di tengah ancaman krisis minyak yang semakin nyata, Presiden Prabowo Subianto harus segera meminta maaf dan kembali ke jalan yang benar. Keputusan bergabung dengan Board of Peace (BOP), badan yang dibentuk Israel dan Amerika Serikat, adalah kesalahan besar yang harus segera diperbaiki. Prabowo telah mengabaikan suara rakyat Indonesia yang jelas-jelas menolak kekejian Israel di Palestina.
Keputusan ini tidak hanya membuat rakyat Indonesia dan Palestina kecewa, tapi juga Iran, yang kini membalas dengan menutup Selat Hormuz. Dua kapal tanker Indonesia masih terjebak di Arab Saudi, sementara kapal-kapal Malaysia dan Thailand diperbolehkan lewat. Ini adalah konsekuensi logis dari keputusan Prabowo yang gegabah dan tidak mempertimbangkan kepentingan nasional.
Permintaan maaf Prabowo bukan hanya tentang minyak, tapi tentang mendudukkan kembali negara ini dalam kolam yang tepat. Indonesia, sejak awal didirikan, menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Membiarkan kejahatan, apalagi bergabung dengan kelompok yang mengusung kejahatan, adalah kekeliruan besar.
Prabowo harus segera meminta maaf dan mengundurkan diri dari BOP. Ini bukan hanya tentang kepentingan jangka pendek, tapi tentang nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan yang termaktub dalam konstitusi negara ini. Rakyat Indonesia tidak akan diam melihat pemimpinnya memilih jalan yang salah.
Kita tidak bisa terus-menerus mengabaikan suara rakyat dan memilih kepentingan pribadi. Saatnya Prabowo memilih jalan yang benar, sebelum terlambat.

























