Ada komando tak tertulis yang kini berseliweran baik di medso, warung kopi, sampai ruang rapat: kalau saya musuh dia, kamu juga harus musuhi dia. Kalau saya tidak suka dia, kamu juga harus memusuhinya. Ini bukan lagi soal beda pilihan politik. Ini tentang upaya sistematis memonopoli relasi sosial atas nama loyalitas.
Memutus silaturahim demi loyalitas buta kepada pemimpin yang diikuti bukanlah strategi. Itu penyakit sosial yang meracuni nalar, pikiran sekaligus membusukkan demokrasi.
Cara pikir ini licik sekaligus kekanak-kanakan. Licik, karena membungkus dendam pribadi dengan jargon perjuangan. Kekanak-kanakan, karena logikanya setara anak TK yang mengancam: kamu main sama dia, kita nggak temenan lagi.
Bedanya, yang memainkan politik isolasi ini bukan bocah. Mereka dewasa, berpendidikan, bahkan sebagian mereka adalah sarjana, pejabat dan pernah menjabat. Kalimatnya manis, senyumnya menenangkan. Tapi isinya racun.
Silaturahim bukan benda politik yang bisa digadaikan demi kubu. Ia fondasi sosial. Ketika dipaksa putus, yang rusak bukan cuma dua orang. Yang runtuh adalah jaringan kepercayaan publik.
Masyarakat jadi terkotak, curiga, dan gampang diadu. Padahal bangsa ini sudah terlalu lelah dipecah oleh isu, oleh hoaks, oleh identitas. Jangan tambah lagi dengan kultus permusuhan.
Anehnya, para arsitek isolasi ini justru takut pada jembatan. Mereka panik melihat dua orang yang mereka benci duduk ngopi bareng. Mereka gelisah kalau lawan politik ternyata masih bisa tertawa bersama.
Sebab jembatan meruntuhkan narasi mereka. Narasi bahwa dunia cuma hitam putih, kawan dan lawan, kami dan mereka. Padahal hidup tidak sesempit itu.
Motifnya klasik: kontrol. Orang yang mampu menjaga silaturahim lintas kubu dianggap ancaman. Dia tidak bisa dikendalikan. Dia punya kepala sendiri. Dia bisa menilai tanpa dibisiki.
Dan itu berbahaya bagi mereka yang hidup dari mobilisasi kebencian. Maka jurusnya satu: isolasi. Putuskan aksesnya. Tuduh dia pengkhianat. Kasih label. Lalu dorong orang lain ikut menjauhi.
Ini mentalitas geng, bukan negarawan. Dalam geng, loyalitas diukur dari seberapa tega kamu membenci musuh ketua. Dalam negara, loyalitas diukur dari seberapa kuat kamu menjaga akal sehat. Demokrasi mati bukan karena beda pendapat. Demokrasi mati ketika orang takut berteman karena beda pendapat.
Jangan tertipu penampilan. Penjahat opini hari ini tidak datang dengan taring. Dia datang dengan kutipan ayat, dengan cerita perjuangan, dengan foto sedang menyantuni anak yatim. Talbis namanya. Membungkus niat buruk dengan kemasan moral. Tujuannya satu: memperalat kamu jadi tentara dalam perang pribadinya.
Lalu kita bertanya, lahir dari lubang mana mentalitas ini? Dari trauma? Dari didikan yang menormalkan dendam? Atau dari ambisi yang menganggap manusia lain cuma pion? Entahlah.
Yang jelas, warisan lama dengan mental seperti ini kalau dibiarkan akan mencetak generasi pengecut dan pengacau. Generasi yang tidak berani berteman tanpa izin ketua kelompok.
Cukup. Silaturahim melampaui sekat politik, sekat organisasi, sekat gengsi. Berbeda pilihan itu niscaya. Bermusuhan karena disuruh itu memalukan. Kalau ada yang memaksa kamu membenci orang lain demi dirinya, tanyakan balik: kamu mau saya jadi manusia, atau jadi budak?
Pilih jadi manusia. Jaga nalar. Jaga pertemanan. Karena bangsa yang sehat bukan bangsa yang seragam. Bangsa yang sehat adalah bangsa yang berani tetap bersaudara meski tidak sejalan.

























