Ruang digital merupakan wadah komunikasi untuk menyampaikan pesan, informasi. Pesan ini bisa saja dalam bentuk berita, dakwah, hingga hiburan.
Ruang digital tidak memberikan batas kepada siapapun untuk berkreasi, namun batas itu terkadang salah ditafsirkan oleh kita. Ada satu hal yang dilupakan dan perlu direnungkan bersama bagaimana perilaku kita saat ini diruang digital.
Momentum Hari Raya Idul Adha selalu datang membawa banyak pelajaran. Tentang keikhlasan, pengorbanan, kepatuhan, dan kepedulian sosial.
Namun di tengah gema takbir dan semangat berbagi daging qurban, tulisan ini mengajak pembaca untuk mengukir kembali satu hal yang sepertinya mulai jarang kita renungkan bersama bagaimana perilaku kita di ruang digital.
Hari ini, masyarakat tidak hanya hidup di dunia nyata. Kita juga hidup di media sosial. Di sanalah orang berbicara, berpendapat, marah, memuji, menghina, bahkan saling menyerang. Ruang digital perlahan telah menjadi “kampung kedua” bagi masyarakat modern.
Sayangnya, kampung digital itu belakangan terasa semakin bising. Ia tidak ada nahkoda yang nyata. Etika masyarakatnya kacau, namun ini tidak bisa disalahkan kapal yang sedang berlayar di arus ombak tinggi.
Kita mudah menemukan pertengkaran di kolom komentar. Orang saling menjatuhkan hanya karena perbedaan pilihan politik. Sedikit berbeda pandangan langsung dicap bodoh, sesat, atau dianggap musuh.
Bahkan tidak sedikit yang merasa paling benar sambil merendahkan orang lain demi mendapatkan perhatian dan dukungan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi secara nasional, tetapi juga mulai terasa di Aceh. Ruang digital yang seharusnya menjadi tempat berbagi ilmu, silaturahmi, dan gagasan perlahan berubah menjadi arena melampiaskan emosi.
Padahal Aceh dikenal sebagai daerah yang memiliki fondasi adat dan nilai agama yang kuat. Kita diajarkan menghormati orang tua, menjaga tutur kata, memuliakan tamu, serta mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan.
Ironisnya, nilai-nilai itu tergeser begitu seseorang memegang telepon genggam dan masuk ke media sosial.Orang yang santun di dunia nyata bisa berubah kasar di ruang komentar.
Di titik inilah Idul Adha menjadi sangat relevan untuk direnungkan kembali. Qurban sejatinya bukan hanya tentang menyembelih hewan.
Lebih jauh dari itu, qurban adalah tentang menyembelih ego dalam diri manusia. Menyembelih kesombongan, amarah, rasa paling benar, dan nafsu untuk mendominasi orang lain. Mungkin hari ini, yang paling perlu disembelih bukan hanya kambing atau sapi, tetapi juga ego digital kita.
Ego yang membuat seseorang merasa bebas menghina orang lain di media sosial. Ego yang membuat orang bangga ketika unggahannya viral meski melukai banyak pihak. Ego yang membuat seseorang sulit menerima perbedaan pendapat.Padahal media sosial bukan ruang bebas tanpa akhlak.
Apa yang kita tulis di internet meninggalkan jejak. Kata-kata yang dilempar di ruang digital juga bisa melukai manusia lain. Bahkan terkadang, luka akibat komentar dan hinaan di media sosial lebih lama sembuh dibanding luka fisik.
Karena itu, generasi muda Aceh perlu mulai membangun budaya digital yang sehat. Literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan cara membuat konten atau menggunakan aplikasi. Yang lebih penting adalah bagaimana membangun etika dalam berkomunikasi.
Kita perlu menghadirkan lebih banyak empati di ruang digital. Lebih banyak tabayyun sebelum membagikan informasi. Lebih banyak edukasi dibanding provokasi. Lebih banyak gagasan dibanding kebencian.
Aceh memiliki modal sosial dan budaya yang besar untuk itu. Tinggal bagaimana nilai-nilai tersebut dibawa masuk ke dunia digital.
Hari Raya Idul Adha seharusnya tidak berhenti pada ritual tahunan semata. Momentum ini juga perlu menjadi ruang introspeksi sosial. Bahwa di tengah perkembangan teknologi, manusia tetap harus menjaga akhlak dan kemanusiaannya.
Sebab pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Yang menentukan sehat atau rusaknya ruang digital tetaplah manusia itu sendiri. Kontrollah media sosial kita, bukan media sosial yang mengontrol diri kita.
Dan mungkin, qurban paling sulit di era hari ini memang bukan menyembelih hewan, melainkan menyembelih ego kita sendiri.
Oleh : Maulana Amri, S.Pd, M.Sos., Sekretaris PWI Kabupaten Aceh Timur

























