BANDA ACEH | Mujibur Rahman, 23, taruna Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh yang menjadi korban ledakan ruang mesin KMP Aceh Hebat 2, meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Senin, 6 Juli 2026. Ia merupakan korban keempat yang meninggal akibat insiden tersebut.
Humas RSUDZA Rahmadi mengatakan kondisi Mujibur mengalami perburukan pada pukul 12.20 WIB. Dokter jaga ICU kemudian menyampaikan perkembangan kondisi pasien kepada keluarga dan melakukan informed consent terkait tindakan medis lanjutan.
“Tim medis melakukan resusitasi jantung paru sebanyak lima siklus sebagai upaya penyelamatan. Namun, setelah melihat kondisi pasien, pihak keluarga meminta agar tindakan resusitasi dihentikan,” kata Rahmadi.
Pasien akhirnya dinyatakan meninggal dunia di hadapan keluarga dan perawat ICU 1 pada pukul 12.38 WIB.
Mujibur merupakan taruna asal Sigli yang sebelumnya menjalani perawatan intensif di ruang ICU RSUDZA sejak peristiwa ledakan terjadi.
Korban Keempat Meninggal
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Banda Aceh Andri Setiawan menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Mujibur. Dengan tambahan satu korban ini, total korban meninggal akibat ledakan KMP Aceh Hebat 2 menjadi empat orang.
Sebelumnya, tiga korban lain telah lebih dulu meninggal dunia. Fakhri Herdieco pada Sabtu, 20 Juni 2026 pukul 22.10 WIB. Kemudian Muhammad Bilal Ramzi pada Kamis, 25 Juni 2026 pukul 20.30 WIB. Terakhir Muhammad Zulfikar pada Rabu, 1 Juli 2026 pukul 01.00 WIB.
“Atas nama seluruh jajaran manajemen dan insan ASDP, kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum. Doa terbaik kami panjatkan agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Andri.
Komitmen Perkuat Keselamatan
Andri menegaskan sejak insiden terjadi, ASDP memprioritaskan penanganan para korban dan pendampingan berkelanjutan kepada keluarga terdampak. Pihaknya bersama rumah sakit, pemerintah daerah, dan instansi terkait terus memastikan kebutuhan korban terpenuhi, termasuk proses pemulangan jenazah hingga pemakaman.
ASDP juga mendukung penuh proses investigasi yang dilakukan instansi berwenang. Hasil evaluasi nantinya akan menjadi dasar penguatan budaya keselamatan, penyempurnaan prosedur operasional, dan peningkatan kualitas layanan penyeberangan.
“Kami berkomitmen untuk terus mendampingi keluarga yang terdampak dan memastikan setiap pembelajaran dari peristiwa ini diwujudkan dalam langkah-langkah perbaikan yang nyata. Keselamatan akan selalu menjadi prioritas utama dalam setiap layanan yang kami berikan,” pungkasnya.

























