#183 hari pascabanjir besar, akses Bireuen–Takengon masih antre panjang. Bantuan korban banjir nyangkut di juknis sejak November
November lalu banjir besar Sumatra merobek jalur Aceh. Hari ini, 183 hari kemudian, mobil dan truk masih bergiliran melewati satu jembatan darurat di Kuta Blang dan Juli, Bireuen.
Di pedalaman, kerusakan diperlakukan seperti keadaan normal baru. Saat libur tiba, antrean memanjang, waktu tempuh jadi siksaan.
Lambatnya perbaikan membuat warga Tajuk Enang-Enang, penghubung Bireuen–Takengon, patungan menyewa alat berat. Mereka kumpulkan donasi bahan bakar untuk membuka jalur sendiri.
Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) rajin mengirim rilis progres ke inbox, tapi di lapangan rakyat yang bekerja tanpa anggaran negara.
Penderitaan berlapis datang dari bantuan korban. Paket stimulus ekonomi, jadup, dan isi hunian dari Kemensos baru cair sekali, tahap pertama.
Sementara bantuan tunai BNPB untuk rumah rusak ringan dan sedang belum bisa diambil sama sekali. Uangnya disebut sudah masuk tahap pertama, tapi terjebak juknis yang tak kunjung beres sejak November 2025.
Dampaknya nyata, ekonomi lumpuh karena jalan tak bisa dilalui, rumah korban tetap rusak karena uang tak cair. Musim libur pun dilewati dengan penundaan perjalanan, bukan karena Aceh tak menarik, tapi karena tak ada yang berani mengambil risiko antre di jembatan darurat.
Jika satgas tak mampu mempercepat perbaikan dan juknis terus jadi tembok, rakyat Aceh sudah membuktikan siapa yang sungguh memulihkan daerah ini.
Negara harus segera turun dari retorika, cairkan bantuan, buka akses. Aceh tidak butuh laporan indah. Aceh butuh jalan yang bisa dilewati dan uang yang bisa dipegang korban hari ini juga.

























