Mak Innaya di Aceh Tamiang kirim Rp500 ribu karena percaya “bantuan bupati”. Anaknya bocor ginjal, sedang kemoterapi. Uang itu kini hilang.
ACEH TIMUR | Telepon itu datang seperti mukjizat. Berbahasa Aceh. Suaranya mirip Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky. Katanya, ada bantuan Rp1,5 juta untuk biaya kemoterapi anak Mak Innaya yang bocor ginjal.
Harapan meledak, Lalu dirampok.
Beberapa hari lalu, nomor +62 851-9879-9404 menghubungi Mak Innaya, warga Aceh Tamiang. Sang penelepon mengaku bupati. Menjanjikan transfer. Mak Innaya percaya. Siapa yang tidak? Anaknya sakit. Uang habis. Negara, lewat “bupati”, katanya, hadir.
Tak sampai sejam, telepon kedua masuk. Nada panik. “Ada kelebihan transfer Rp500 ribu. Salah kirim. Itu jatah anak lain yang mau operasi. Tolong kirim balik sekarang.”
Mak Innaya gemetar. Di tangannya cuma Rp500 ribu. Uang terakhir. Untuk beli obat. Untuk ongkos rumah sakit. Untuk sesuap nasi besok. Tapi otaknya berkata: “Ini bupati. Ini bantuan. Kalau tak dikembalikan, nanti bantuan batal.”
Dikirim, Klik, Ludes.
Setelah itu, nomor tadi mati. Bantuan Rp1,5 juta tak pernah mendarat. Yang datang hanya sepi. Dan sesal.
“Dia bilang kelebihan transfer. Diminta kirim balik ke rekening yang dia kasih,” kata Mak Innaya, suaranya pecah saat mengadu ke kerabat, Jumat 9/5/2026.
Kerabatnya ikut remuk. “Namanya anak lagi dirawat, dikemo. Dapat telepon katanya Bupati mau bantu, siapa yang gak senang? Tanpa pikir panjang langsung dikirim, karena mikirnya buat nolong anak. Ternyata ditipu.”
Ini bukan kasus pertama. Modus “bantuan pejabat” adalah kejahatan yang paling pengecut: menyerang orang yang sudah jatuh.
Penipu tak butuh senjata. Cukup satu telepon, satu nama besar, satu janji palsu. Korbannya selalu sama: yang sakit, yang miskin, yang putus asa.
Pemkab Aceh Timur sudah berkali-kali menegaskan. Bupati tidak pernah transfer bantuan langsung. Tidak pernah minta uang dikembalikan. Semua bantuan resmi lewat dinas. Ada berita acara. Ada tanda tangan. Tidak ada drama “kelebihan transfer”.
Tapi penipu tahu celahnya: panik mengalahkan logika. Harapan mengalahkan curiga.
Hari ini Mak Innaya tak cuma kehilangan uang. Dia kehilangan percaya. Pada telepon yang berdering. Pada suara yang mengaku pejabat. Pada negara yang seharusnya melindungi.
Warga diminta catat: 0851-9879-9404. Jika nomor itu menelepon mengaku Bupati Aceh Timur, tutup. Blokir. Lapor. Konfirmasi ke ajudan, Humas Pemkab, atau dinas terkait. Jangan transfer serupiah pun.
“Tega bener nipu orang yang lagi susah. Anaknya sakit, uang terakhir pun diambil,” tutup kerabat korban.
Menipu orang sehat saja dosa. Menipu ibu yang anaknya sekarat di ruang kemo? Itu bukan lagi kriminal. Itu kebiadaban. Dinegeri ini, kebiadaban semacam itu harus di musnahkan.

























