#Aktivitas galian C di Bireuen dinilai merusak daerah aliran sungai dan mewariskan risiko banjir ke warga di hilir. Ahli lingkungan mendesak evaluasi menyeluruh terhadap izin dan pengawasan.
BIREUEN | Maraknya aktivitas galian C di kawasan hilir Kabupaten Bireuen dinilai tidak sekadar pengambilan material untuk pembangunan.
Direktur Eksekutif Aceh Wetland Forum, Yusmadi Yusuf, menyebut pengerukan berkelanjutan di kawasan daerah aliran sungai berpotensi merusak ekosistem dan meningkatkan risiko bencana.
“Sungai kehilangan kemampuan alaminya untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Ketika dasar sungai terus dikeruk, tebing menjadi rentan longsor, sedimentasi meningkat, dan risiko banjir semakin besar,” ujar Yusmadi, Selasa 16 Juni 2026.
Menurut Yusmadi, pemerintah perlu menghitung biaya ekologis dari aktivitas tersebut. Keuntungan ekonomi jangka pendek dari galian C, katanya, tidak sebanding dengan kerugian lingkungan yang harus ditanggung masyarakat dalam jangka panjang.
“Kerusakan DAS tidak terjadi dalam sehari. Ia akumulatif. Ketika hulu dibuka, sungai dikeruk, dan pengawasan lemah, maka masyarakat di hilir yang akan menanggung akibatnya. Banjir, erosi, dan hilangnya lahan produktif adalah tagihan yang muncul belakangan,” jelasnya.
Yusmadi mendesak pemerintah mengevaluasi seluruh aktivitas galian C di Bireuen, khususnya yang berada di kawasan sungai. Evaluasi itu mencakup kepatuhan terhadap perizinan dan kajian lingkungan hidup.
“Pembangunan tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan daya dukung lingkungan. Jika sungai rusak, biaya pemulihannya jauh lebih mahal daripada nilai material yang diambil hari ini,” katanya.

























