#Dari Ibrahim-Ismail kita belajar: kepemimpinan bukan paksaan, kepatuhan bukan ketakutan. Aceh butuh ruang dialog yang merawat rasa hormat
IDUL ADHA selalu menuntut lebih dari sekadar kurban kambing atau sapi. Esensi yang lebih sulit dijalankan adalah kurban ego.
Kisah Ibrahim dan Ismail dalam Alquran menawarkan teladan itu: perintah Allah disampaikan melalui mimpi, tetapi Ibrahim tidak serta-merta mengebiri kehendak anaknya.
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu,” katanya.
Tidak ada paksaan. Tidak ada otoritas yang dipukul rata. Ismail, dalam kapasitasnya sebagai anak sekaligus makmum spiritual ayahnya, menjawab dengan kesadaran penuh: “Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Kita punya banyak “Ibrahim” dan banyak “Ismail”: gubernur dan rakyatnya, rektor dan dekan, guru dan murid, ulama dan jamaah.
Yang sering hilang adalah percakapan. Yang tumbuh subur adalah petentengan. Keputusan turun dari atas tanpa ruang tanya. Kritik dibalas curiga. Otoritas disalahartikan sebagai kebal koreksi.
Yang perlu dikuatkan, Idul Adha seharusnya menjadi laboratorium demokrasi sosial Aceh. Ibrahim mendiskusikan perintah Tuhan secara demokratis kepada anaknya.
Ismail menerima dengan rida dan ikhlas karena ada rasa hormat dan kasih yang dijaga dalam percakapan. Itulah takwa yang hidup: bukan tunduk buta, tetapi patuh dengan kesadaran.
Aceh sedang diuji dalam berbagai kebijakan publik, tata kelola pendidikan, dan hubungan antara pemerintah dengan warganya. Jika setiap perbedaan langsung dibenturkan, maka yang terjadi adalah kelelahan kolektif, bukan kemajuan.
Padahal warisan Ibrahim-Ismail jelas: pemimpin menjelaskan, yang dipimpin merespons dengan bijak, dan keduanya merawat hubungan.
Momentum Idul Adha mengingatkan, keberanian sejati bukan memaksa orang lain tunduk, melainkan berani membuka ruang dialog.
Kepatuhan sejati bukan karena takut, melainkan karena mengerti. Mari kita kurbankan kebiasaan petentengan, dan gantikan dengan percakapan yang didasari keinginan mencari kebaikan bersama.

























