Revitalisasi Rp86,7 miliar belum pulihkan ruang kelas. Risiko putus sekolah dibayangi trauma dan fasilitas terbatas.
PIDIE JAYA | Halaman SMA Negeri 2 Meureudu masih tertutup lumpur yang mengeras setinggi dua meter, Senin 30 April 2026. Bendera di tiang karatan itu robek di ujungnya. Apel hari pertama usai Idulfitri hanya dihadiri 30 persen dari 271 siswa.
Banjir bandang pada 26 November 2025 lalu menenggelamkan seluruh bangunan. Lapangan basket hilang. Pohon mati berdiri. Laboratorium komputer hanyut.
Sejak 5 Januari 2026, belajar digelar di empat tenda BNPB dan enam ruang sementara 5×6 meter. Tanpa meja, tanpa kursi. Jam pelajaran dipangkas jadi 35 menit.
Di ruang 5×4 meter, puluhan siswa berhimpitan. Udara panas, berdebu. Suara guru antarkelas tembus sekat tipis.
“Kadang susah fokus,” kata Rizfani, siswa kelas XI. Catatan pelajaran hilang terbawa lumpur. Ujian nasional disiapkan lewat telepon genggam.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti meresmikan ruang sementara 9 Maret 2026. Pemerintah alokasikan Rp86,7 miliar untuk revitalisasi 72 sekolah terdampak di Pidie Jaya, bagian dari program nasional Rp14 triliun tahun 2026.
Data Kemendikdasmen: dari alokasi Rp1,62 triliun untuk 3.085 sekolah terdampak di Aceh, baru Rp366,49 miliar tersalur tahap I.
Dekan FTK UIN Ar-Raniry Profesor Safrul Muluk menyebut pemulihan lambat. Dia dorong percepatan pembersihan sekolah dan kelas modular sambil tunggu pembangunan.
“Tanpa pemulihan psikososial, kehadiran turun, putus sekolah mengintai,” katanya. Indikator sukses: angka putus sekolah nol persen.
Kepala SMA 2 Meureudu M Diah mengatakan fasilitas masih terbatas. “Yang penting anak-anak tetap datang dan belajar,” ujarnya.

























