Oleh: Sekretaris PWI Aceh Timur, Maulana Amri, M.Sos
Ruang publik di era media sosial bergerak sangat cepat. Dalam hitungan menit, sebuah isu dapat menyebar ke ribuan layar, memancing emosi, membentuk persepsi, bahkan menghakimi seseorang sebelum fakta selesai diperiksa.
Di tengah situasi itu, masyarakat sering kesulitan membedakan antara kritik yang sehat dengan serangan yang lahir dari kebencian (Heater)dan manuver para pendengung (Buzzer).Padahal keduanya berbeda.
Kritik merupakan bagian penting dari demokrasi. Pemerintah, pejabat publik, bahkan tokoh masyarakat memang harus terbuka terhadap kritik. Tanpa kritik, kekuasaan mudah kehilangan kontrol, dan kebijakan berpotensi berjalan tanpa koreksi. Karena itu, kritik seharusnya dipandang sebagai vitamin demokrasi, bukan ancaman.
Namun belakangan, ruang digital kita justru memperlihatkan gejala lain. Banyak percakapan yang tidak lagi berfokus pada kebijakan, program, atau keputusan publik, melainkan mulai bergeser pada serangan pribadi, ejekan, prasangka, hingga upaya membangun kebencian secara terus-menerus.
Fenomena ini juga mulai terasa dalam dinamika komunikasi publik di Aceh Timur Perdebatan yang semestinya membahas solusi atas persoalan masyarakat kadang berubah menjadi arena saling menyerang secara personal.
Yang dibicarakan bukan lagi substansi kebijakan, melainkan kehidupan pribadi, asumsi, bahkan tuduhan yang belum tentu memiliki dasar yang jelas. Di era media sosial, masyarakat juga perlu memahami bahwa tidak semua suara keras di ruang publik berasal dari motif yang sama.
Ada perbedaan antara kritikus, pembenci, dan pendengung atau buzzer. Kritikus adalah mereka yang menyampaikan koreksi berdasarkan argumen dan kepentingan publik.
Kritiknya mungkin tajam, tetapi fokus pada kebijakan, keputusan, atau dampak yang dirasakan masyarakat. Seorang kritikus umumnya terbuka terhadap dialog dan bersedia mengubah pandangan bila diperlihatkan data baru.
Berbeda dengan pembenci. Pembenci lebih digerakkan oleh emosi dibanding argumentasi. Yang diserang sering kali bukan substansi persoalan, melainkan sisi personal seseorang. Karena itu, ruang yang dibangun pembenci biasanya dipenuhi ejekan, prasangka, dan kemarahan yang terus diulang.
Sementara pendengung atau buzzer bekerja dengan pola berbeda lagi. Mereka bukan selalu marah atau kecewa, tetapi menjalankan narasi tertentu secara terorganisir untuk membentuk opini publik. Produk mereka tidak murni dari ide sendiri tapi acap kali ada pesanan atau sponsor dibelakangnya.
Dalam banyak kasus, pesan yang disampaikan seragam, muncul serentak, dan lebih bertujuan menggiring persepsi dibanding membangun diskusi sehat. Masalahnya, ketiga hal ini sering bercampur di media sosial sehingga publik kesulitan membedakan mana kritik yang layak didengar dan mana suara yang sekadar ingin menciptakan kebisingan.
Akibatnya, kritik yang sehat kadang dianggap sebagai kebencian, sementara serangan personal justru dibungkus seolah-olah bagian dari kontrol demokrasi.Padahal demokrasi yang sehat membutuhkan kemampuan untuk membedakan keduanya.
Pemerintah tentu tidak boleh antikritik. Pemimpin daerah harus siap menerima koreksi, mendengar keluhan, dan membuka ruang dialog dengan masyarakat. Tetapi pada saat yang sama, ruang publik juga tidak boleh dipenuhi budaya saling menghancurkan.
Sebab ketika kebencian lebih dominan daripada akal sehat, yang rusak bukan hanya nama seseorang, melainkan kualitas demokrasi itu sendiri.
Masyarakat akhirnya menjadi lelah, bingung menentukan mana informasi yang layak dipercaya, dan perlahan kehilangan kepercayaan terhadap seluruh proses diskusi publik.
Karena itu, yang dibutuhkan hari ini bukan hanya keberanian berbicara, tetapi juga kedewasaan dalam menyampaikan kritik. Kritik yang baik tidak harus lembut, tetapi harus jujur. Kritik tidak harus menyenangkan, tetapi tetap memiliki batas etik dan tanggung jawab moral.
Kita boleh berbeda pandangan terhadap pemimpin, boleh tidak setuju terhadap kebijakan, bahkan boleh kecewa terhadap pemerintah. Namun semua itu seharusnya tetap disampaikan dalam koridor argumentasi, bukan kebencian.Sebab demokrasi tidak tumbuh dari pujian tanpa batas, tetapi juga tidak akan sehat bila dipenuhi amarah tanpa kendali.

























