JAKARTA | Banjir bandang dan longsor melanda tiga provinsi di Pulau Sumatra, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, sejak akhir November 2025. Bencana ini telah menyebabkan kerugian besar dan korban jiwa yang signifikan.
Data terbaru dari Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh menunjukkan bahwa korban jiwa mencapai 326 orang tewas, 1.435 luka-luka, dan 167 orang hilang di Aceh.
Sementara itu, di Sumatera Utara, korban jiwa mencapai 123 orang tewas, 90 luka-luka, dan 42 orang hilang. Di Sumatera Barat, korban jiwa mencapai 34 orang tewas, 28 luka-luka, dan 10 orang hilang.

“Korban terdampak mencapai 344.018 kepala keluarga atau 1.680.886 jiwa,” kata Juru Bicara Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Murthalamuddin.
Kerusakan infrastruktur juga sangat parah, dengan 111.430 rumah rusak, 64 fasilitas pendidikan, dan 224 jembatan rusak. Selain itu, 442 titik jalan juga rusak.
Pemerintah telah mengaktifkan mobilisasi penuh seluruh sumber daya nasional untuk menangani bencana ini. BNPB, Basarnas, TNI, Polri, dan relawan terus melakukan pencarian dan evakuasi, serta distribusi logistik dan bantuan kemanusiaan.
“Penyaluran bantuan dilakukan melalui darat, air, dan udara,” kata Murthalamuddin.
Perkiraan kerugian ekonomi mencapai Rp68,67 triliun, dengan kerusakan rumah penduduk, kehilangan pendapatan rumah tangga, kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan, serta kerugian produksi lahan pertanian.
Pemerintah dan organisasi lingkungan mendesak agar fokus kebijakan lebih condong ke ekologi dan restorasi lingkungan untuk mencegah bencana serupa di masa depan.

























