JAKARTA | Donald Trump mengumumkan rencana untuk menguasai cadangan minyak Venezuela, yang tampaknya sekarang berada di bawah kendalinya, dan menjualnya senilai antara $1,8 miliar dan $3 miliar.
Pengumuman ini mewujudkan fantasi lama Trump tentang menggunakan militer AS untuk “mengambil minyak” dari negara-negara yang ditaklukkan.
Trump telah lama berbicara tentang rencana ini, bahkan sebelum menjadi presiden. Pada tahun 2016, ia mengatakan kepada Matt Lauer bahwa AS telah melakukan kesalahan besar di Irak karena gagal “mengambil minyak” sebelum menarik semua pasukannya.
Ia juga menyarankan bahwa AS bisa saja meninggalkan pasukan di belakang untuk “merebut berbagai wilayah di mana mereka memiliki minyak”.
Rencana Trump ini telah menuai reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk pemerintah Venezuela dan komunitas internasional. Namun, Trump tetap optimis dan berpegang teguh pada visi strategisnya.
Latar Belakang
Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, mencapai 303 miliar barel. Namun, produksi minyak Venezuela saat ini hanya berada di kisaran 1 juta barel per hari, anjlok tajam dari puncaknya sekitar 3,5 juta barel per hari pada era 1970-an.
Reaksi Internasional
Pengumuman Trump ini telah memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk pemerintah Venezuela dan komunitas internasional. Pemerintah Venezuela telah menolak rencana Trump dan menganggapnya sebagai upaya untuk menguasai sumber daya alam negara mereka.
Dampak
Rencana Trump ini dapat memiliki dampak signifikan pada pasar minyak global dan ekonomi Venezuela. Namun, para analis mengingatkan bahwa pemulihan sektor minyak Venezuela tidak akan berlangsung cepat dan memerlukan investasi besar.

























