Ada dua cara paling gampang menghadapi zaman yang bising ini: menyerah diam-diam, atau belajar sambil pura-pura kuat. Dua-duanya gratis. Dua-duanya legal. Tapi hanya satu yang bikin besok masih ada.
Pertanyaannya bukan lagi “kamu mau yang mana?” Terlalu sopan. Pertanyaan yang benar: “kamu sadar nggak kalau tiap hari sebetulnya kamu sudah memilih?”
Lihat cara kita merespons berita. Dana desa Rp182 juta dipalsukan karena “terdesak keluarga”. Pejabat korupsi karena “demi anak-istri”. Mahasiswa nyontek karena “sistemnya rusak”. Semua punya alibi. Semua terdengar masuk akal. Itu menyerah yang dibungkus rasionalitas.
Menyerah itu insting. Ia otomatis. Otak reptil kita memang didesain menghindar dari nyeri. Malu diketahui keluarga itu nyeri. Bangkrut itu nyeri. Nggak lulus itu nyeri. Maka slip dipalsukan, angka di-mark up, kunci jawaban diedarkan. Cepat. Selesai. Nggak berisik.
Belajar bukan insting. Ia keputusan. Dan keputusan selalu mahal ongkosnya. Belajar berarti mengakui: “Saya belum ngerti”. Di republik yang mengagungkan gelar dan flexing, kalimat itu terdengar seperti bunuh diri sosial.
Maka kita lebih suka “menyerah yang produktif”: ikut kursus online 2 jam, lalu posting sertifikat. Beli buku self-help, difoto, nggak dibaca. Nonton podcast motivasi sambil scroll Shopee. Itu bukan belajar. Itu menyerah yang cosplay jadi rajin.
Soalnya begini: belajar menuntut kita duduk lama dengan rasa tidak tahu. Tidak ada dopamine cepat di situ. Nggak ada like. Nggak ada “ciee pinter”. Adanya sunyi, salah, diulang, salah lagi. Persis seperti akar yang nyari air di tanah keras. Nggak Instagramable.
Sementara menyerah kasih hadiah instan: lega. Tuntutan berhenti. Cacian berhenti. “Ya udah, segitu aja kemampuan gue.” Lega itu candu.
Di sinilah negara ikut andil. Sekolah ngajar kita kejar nilai, bukan nalar. Kantor ngasih bonus ke yang manut, bukan yang nanya. Medsos kasih panggung ke yang paling yakin, bukan yang paling penasaran. Pelan-pelan kita dilatih: cepat selesai lebih penting dari ngerti beneran.
Akibatnya, kita punya generasi yang pinter ngomong “growth mindset” tapi panik kalau disuruh mulai dari nol. Punya pejabat yang hafal dalil “anti korupsi” tapi tanda tangan mark up. Karena menyerah itu difasilitasi sistem. Belajar tidak.
Jadi mau sampai kapan?
Tidak ada yang 100 persen belajar atau 100 persen menyerah. Kita semua nyolong-nyolong di antara keduanya. Tapi di setiap tikungan, ada satu detik jujur: kita tahu kita lagi ngapain. Lagi ngeles, atau lagi ngeh.
Detik itu yang penting. Karena dari situ, besok kamu bangun sebagai orang yang sama, atau orang yang diam-diam mutusin buat ngerti lima persen lebih banyak dari kemarin.
Menyerah nggak dosa. Belajar nggak suci. Tapi cuma satu yang bikin kamu nggak jadi beban buat orang lain: keputusan untuk nggak bohong ke diri sendiri.
Dan itu, sialnya, nggak bisa diwakilkan.

























