#Mantan ketua Senat Fakultas FEBI UIN Nahrisyah Lhokseumawe sekaligus Tokoh Pemuda Aceh Timur sindir Anggota DPRA Martini, desak hentikan nyinyir di medsos dan fokus kawal pemerintahan.
ACEH TIMUR | Sejarah tidak mencatat berapa banyak status yang Anda buat. Sejarah mencatat berapa banyak masalah rakyat yang Anda selesaikan.
Itu tamparan keras dari Mudhakir, Pemuda Aceh Timur, untuk Anggota DPRA Martini. Ia geram melihat gaya komunikasi sang dewan yang dinilai lebih sibuk nyinyir di Facebook ketimbang bekerja di parlemen.
“Sebagai anggota dewan, mestinya Bu Martini mendukung pemerintahan Aceh Timur yang baru agar lebih proaktif. Bukan malah bikin gaduh di Facebook, bikin gaduh di medsos, mempekeruh suasana,” tegas Mudhakir, Kamis, 7 Mei 2026.
Bagi Mudhakir, politik nyinyir itu kekanak-kanakan dan provokatif. Tidak mencerminkan wibawa wakil rakyat yang disumpah atas nama konstituen. Kursi DPRA, kata dia, terlalu mahal untuk sekadar dipakai update status.
“Kami sebagai anak muda sangat kecewa. Kursi itu dibayar pajak rakyat. Kalau kerjanya cuma update status nyinyir, rakyat rugi. Mending kursinya dikasih penjaga sekolah. Minimal dia jaga gerbang, bukan jaga keributan,” sindirnya.
Mudhakir mengingatkan, Aceh Timur sedang berikhtiar bangkit di bawah jargon “Aceh Timur Garang”. Pemerintahan baru butuh dikawal dengan data dan gagasan, bukan diganggu jempol yang gatal.
Ia menegaskan fungsi dewan jelas: legislasi, anggaran, pengawasan. Tiga fungsi itu punya ruang konstitusional. Bukan kolom komentar.
“Kalau ada yang bobrok, panggil rapat. Bentuk pansus. Gunakan hak interpelasi. Itu baru garang. Kalau cuma galak di kandang Facebook, namanya bukan wakil rakyat. Itu buzzer,” kata Mudhakir.
Menurutnya, satu kalimat provokatif dari pejabat publik bisa membelah warga dan mengalihkan fokus dari kerja pembangunan. Sementara rakyat butuh jalan, lapangan kerja, dan sekolah. Bukan drama di timeline.
“Rakyat nggak makan dari like. Rakyat makan dari kebijakan. Mau marah, marah di paripurna. Biar lahir solusi. Kalau marahnya di medsos, yang lahir cuma gaduh,” ujarnya.
Menutup pernyataan, Mudhakir mewakili keresahan anak muda meminta Martini dewasa berpolitik.
“Facebook itu tempat jualan online, Bu. Bukan tempat jualan amarah. Mau kritik, pakai data. Mau ribut, ribut di forum resmi. Biar rakyat tahu, gaji dan fasilitas dewan itu dipakai untuk apa,” tutup Mudhakir.

























