Oleh: Nanda Rizki, Pemuda Aceh Timur yang Peduli Kemanusiaan
Disebuah negeri yang peta geografisnya sudah menjadi lipatan-lipatan luka, Republik Sudan yang terletak di timur laut Afrika menjadi saksi manusia terus berbaris tanpa tahu siapa yang memerintah, siapa yang dibunuh, dan siapa yang harus bersedih.
Di Sudan, setiap pagi tidak lagi diawali oleh azan, melainkan oleh desing peluru yang lebih fasih berbicara tentang nasib manusia dari pada pemerintah itu sendiri.
Di ruang-ruang pengungsian, waktu menjadi sesuatu yang asing, ia tidak bergerak maju, hanya berputar di tempat. Anak-anak duduk di bawah tenda, menatap udara seperti menatap pengadilan yang tak kunjung dimulai.
Mereka seolah menunggu seseorang yang bernama “Kemanusiaan” datang membawa keputusan akhir, namun “Kemanusiaan” itu sendiri sudah lama tersesat di labirin laporan diplomatik, disembunyikan di antara meterai, stempel, dan janji kosong lembaga internasional.
Di tengah debu Khartum ibu kota Sudan, darah tidak lagi memiliki warna moral; ia menjadi cairan administrasi yang menetes perlahan dari pena pejabat dunia.
Mereka menulis “dukacita” di laporan harian, lalu makan malam dengan senyum sopan. Barangkali beginilah cara dunia modern berduka dengan format, bukan dengan air mata.
Manusia di Sudan kini hidup seperti karakter-karakter dalam novel Kafka: dihukum tanpa tahu kesalahannya, diadili tanpa pengadilan, dan dihapus dari catatan dunia dengan alasan “konflik internal.”
Betapa mudahnya dunia melupakan, betapa normalnya penderitaan ketika ia terjadi di tempat yang tidak memiliki nilai ekonomi.
Setiap ledakan di Omdurman adalah pengingat bahwa kita semua masih hidup di zaman di mana manusia bisa hilang tanpa jejak, dan yang tersisa hanyalah statistik. Sementara itu, dunia terus bicara tentang resolusi, embargo, dan bantuan kemanusiaan.
Kata-kata yang terdengar mulia, tapi tak pernah benar-benar menembus dinding tenda pengungsi. Mungkin Sudan hanyalah cermin besar yang memantulkan wajah kemanusiaan kita hari ini, lelah, acuh, dan sibuk mencari alasan agar tidak merasa bersalah.
Karena di dunia yang sudah terlalu penuh oleh absurditas, rasa peduli menjadi hal yang paling mustahil, seperti mencoba mencari keadilan di ruang arsip yang tak pernah dibuka. Dan di antara tumpukan laporan dan berita singkat, darah kemanusiaan terus mengalir.
Tapi bukan di tubuh manusia, melainkan di saluran-saluran birokrasi, membeku perlahan, menunggu seseorang untuk mengingat bahwa yang mengalir itu bukan tinta melainkan nyawa.
Sebuah pertanyaan untuk dunia
Apakah kita masih berhak menyebut diri manusia, jika di satu sisi dunia kita berbicara tentang kecerdasan buatan dan wisata luar angkasa, sementara di sisi lain ada bayi-bayi Sudan yang mati karena air kotor?
Apakah solidaritas kemanusiaan hanya berlaku bila kamera menyorot, dan lenyap ketika listrik padam?
Sudan bukan hanya tragedi Afrika ia adalah cermin retak bagi seluruh umat manusia.
Di balik setiap tubuh yang tergeletak, ada kegagalan global yang lebih besar, kegagalan untuk belajar dari Rwanda, Suriah, Gaza, dan sekarang Sudan.
Dunia yang membiarkan satu bangsa kelaparan karena politik, adalah dunia yang perlahan melupakan makna menjadi manusia.

























