Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia ternyata menyimpan potensi kerugian yang sangat besar.
Studi Internal yang dilakukan Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mengungkap bahwa makanan yang terbuang dalam program MBG mencapai Rp 1,27 triliun setiap pekan.
Apakah ini berarti bahwa program MBG lebih berorientasi pada gizi politik daripada gizi anak-anak? Pertanyaan ini patut diajukan ketika kita melihat betapa besarnya potensi kerugian yang ditimbulkan oleh program ini.
Pemerintah seolah-olah hanya fokus pada pelaksanaan program tanpa mempertimbangkan dampaknya. Mereka tidak mempertimbangkan kemungkinan penolakan makanan oleh anak-anak, tidak mempertimbangkan kualitas gizi makanan, dan tidak mempertimbangkan efisiensi penggunaan anggaran.
Ini bukanlah sekadar kesalahan teknis, tapi merupakan kegagalan besar dalam mengelola uang rakyat. Pemerintah pusat harus bertanggung jawab atas pemborosan anggaran ini dan segera mengambil tindakan untuk mencegahnya.
Oleh karena itu, kami masyarakat Indonesia mendukung penuh rekomendasi CELIOS untuk melakukan moratorium sementara program MBG, diikuti reformasi total dalam tata kelola dan distribusi. Audit transparan dan evaluasi menyeluruh juga diperlukan untuk mencegah pemborosan anggaran yang lebih besar.
Kita harus memastikan bahwa program MBG benar-benar berorientasi pada gizi anak-anak, bukan gizi politik. Kita harus memastikan bahwa uang rakyat digunakan dengan efektif dan efisien untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia.

























