Beutong bukan papan catur. Beutong bukan meja judi tempat investor melempar dadu triliunan lalu berharap alam menyerah kalah. Beutong adalah tanah yang punya ingatan. Tanah yang setiap jengkalnya menyimpan keringat leluhur, air mata syuhada, dan luka yang negara belum berani tatap.
Di satu sisi, gembar-gembor investasi Rp200 triliun disodorkan sebagai “jalan keluar”. Di sisi lain, Beutong menjawab dengan diam yang lebih keras dari toa. Diam warga yang menolak. Diam tanah yang menolak digali. Di atas kertas, Beutong bernilai triliunan. Di atas tanah, Beutong tak ternilai.
Ini bukan soal anti pembangunan. Jangan lagi warga dituduh alergi kemajuan hanya karena mereka menolak dipaksa menelan “surga” yang resepnya ditulis di Jakarta.
Pembangunan sejati tak datang dengan arogansi alat berat. Pembangunan sejati datang dengan restu, datang dengan pengakuan luka, datang dengan kata maaf yang tak kunjung diucap negara.
Sakitnya Beutong bukan baru kemarin. Luka masa lalu masih menganga, tanya korban masih menggantung di udara. Lalu hari ini, datang tawaran baru: gali lagi. Jual lagi. Gadai lagi. Seolah Beutong hanya deretan angka di spreadsheet. Seolah martabat bisa diuangkan. Seolah tangis ibu-ibu yang menjaga sungai bisa dibayar cash.
“Surga kalian, tanam di tanah kalian,” kata seorang tetua Beutong. Kalimat pendek, tapi menampar seluruh logika kapital yang mengira semua bisa dibeli. Ya, tanam surga itu di tanah yang merindukan. Jangan paksa rahim Beutong yang sejak awal menolak angkara. Karena setiap kali tanah dipaksa, yang tumbuh bukan kemakmuran. Yang tumbuh adalah dendam.
Pemuda Beutong bilang benar: kami tak mau mewarisi alam yang amblas. Ibu-ibu Beutong bilang benar: alam ini ibu, bukan batu yang digali saat bosan. Mereka tidak sedang marah. Mereka sedang waras di tengah gila kolektif bernama “investasi tanpa syarat”.
Maka sikap kami jelas: stop. Stop menjadikan Beutong meja judi. Stop menjadikan luka sebagai collateral. Stop menjadikan triliunan sebagai dalih merampas kedaulatan.
Jika negara benar ingin membangun Beutong, mulailah dari menyembuhkan, bukan mengeruk. Mulailah dari mendengar, bukan memaksa. Karena sejarah sudah terlalu sering membuktikan: tanah yang dipaksa tunduk, suatu hari akan bangkit mengguncang.
Beutong sudah bicara. Kini giliran kita memilih: menjadi bagian yang merawat, atau bagian yang mengorek luka. Triliun boleh datang dan pergi. Tapi tanah, luka, dan martabat Beutong akan tetap di sini. Menatap kita. Menghakimi kita.

























